Pada hari Senin (19/1) lalu, terjadi sebuah percakapan telepon yang cukup mengejutkan. Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, ternyata berbicara langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Topik utama mereka? Nasib kelompok Kurdi di Suriah.
Pembicaraan itu diungkap oleh Kantor Kepresidenan Suriah. Menariknya, ini terjadi hanya sehari setelah tercapainya kesepakatan antara Angkatan Bersenjata Suriah dan para pejuang Kurdi. Sepertinya, dinamika di lapangan memang bergerak cepat.
Kantor Kepresidenan Suriah, seperti dilaporkan AFP pada Selasa (20/1), menyebutkan bahwa kedua pemimpin itu sepakat pada satu hal penting.
Sebenarnya, langkah perdamaian ini sudah dirintis sebelumnya. Presiden al-Sharaa sendiri yang mengumumkan kesepakatan gencatan senjata penuh dengan Mazloum Abdi, sang Kepala Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Pengumuman itu keluar Minggu (18/1) waktu setempat, bertepatan dengan makin majunya pasukan pemerintah ke wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi di utara dan timur negara itu.
“Saya merekomendasikan gencatan senjata total,” ujar Sharaa. Pernyataan itu ia sampaikan usai bertemu dengan utusan Amerika Serikat, Tom Barrack, di ibu kota Damaskus.
Artikel Terkait
Korban Rugi Rp1 Miliar Laporkan Timothy Ronald ke Polda Metro Jaya
Sutoyo Abadi Bongkar Mainan Rasa dan Modal di Balik Partai Baru Pendukung Anies
Setelah Perjalanan Berliku, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis Akhirnya Menyapa Pembaca
Bahasa Minang di Negeri Sembilan: Simbol yang Bertahan, Penutur yang Menyusut