IHSG Anjlok 4,57% Didorong Outlook Negatif Fitch dan Gejolak Timur Tengah

- Kamis, 05 Maret 2026 | 06:40 WIB
IHSG Anjlok 4,57% Didorong Outlook Negatif Fitch dan Gejolak Timur Tengah

Pasar saham kita hari Rabu kemarin benar-benar berdarah. IHSG ambruk tajam, mencatat penurunan yang cukup dalam di tengah badai sentimen yang datang dari berbagai arah. Kombinasi antara eskalasi di Timur Tengah dan kabar dari lembaga pemeringkat Fitch soal outlook Indonesia yang dipangkas jadi negatif, bikin investor langsung panik. Aksi jual pun membanjiri lantai bursa.

Menurut data BEI, indeks akhirnya ditutup anjlok 4,57 persen ke level 7.577,06. Padahal, di tengah sesi perdagangan, pelemahannya pernah nyentuh angka 5,71 persen. Transaksi hari itu cukup ramai, dengan nilai mencapai Rp29,64 triliun dan volume saham yang diperdagangkan tembus 50,39 miliar lembar. Kerusakannya luas: 767 saham melemah, cuma 61 yang mampu menguat, sementara 130 lainnya stagnan. Ini sudah hari ketiga berturut-turut IHSG terpuruk, dengan akumulasi kerugian mingguan yang hampir menyentuh 9 persen.

Keputusan Fitch untuk mengubah outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif jelas jadi pukulan telak. Dalam rilisnya, mereka bilang langkah ini mencerminkan ketidakpastian kebijakan yang meningkat. Ada kekhawatiran soal konsistensi bauran kebijakan yang dinilai tergerus, terutama di tengah sentralisasi pengambilan keputusan yang terjadi belakangan ini.

Fitch menilai kondisi ini bisa melemahkan prospek fiskal kita untuk jangka menengah, menekan sentimen investor, dan mengurangi ketahanan eksternal Indonesia.

Meski begitu, mereka masih menegaskan peringkat BBB untuk Indonesia. Peringkat itu mengakui rekam jejak kita dalam menjaga stabilitas makro, prospek pertumbuhan yang relatif oke, rasio utang pemerintah yang masih moderat, dan bantalan eksternal yang dianggap cukup. Tapi, semua kekuatan itu masih dibayangi beberapa kelemahan mendasar. Seperti rasio penerimaan negara yang rendah, beban bunga utang yang tinggi, dan indikator tata kelola yang tertinggal dibanding negara-negara lain yang setara.

Lalu, apa yang harus dilakukan investor di tengah kepanikan seperti ini?

BRI Danareksa Sekuritas mengeluarkan riset khusus. Mereka mengakui, penurunan IHSG yang tembus 5 persen memang kerap memicu kepanikan massal. Namun begitu, dalam dinamika pasar modal, fase koreksi tajam seperti ini sebenarnya adalah bagian dari siklus yang wajar dan hampir tak terhindarkan.

Yang penting, kata mereka, fokus investor seharusnya bukan sibuk menebak-nebak di mana titik terendah pasar. Tapi lebih pada memastikan strategi investasi tetap terkontrol dan risiko dikelola dengan disiplin ketat.

Bagi yang sudah pegang saham, pendekatannya harus lebih selektif. Untuk saham-saham big cap dengan fundamental kuat, disarankan untuk menahan posisi. Jangan buru-buru melakukan average down.

"Sebaiknya, tunggu satu hingga dua hari untuk melihat tanda-tanda stabilisasi pasar," tulis BRI Danareksa.

Sebaliknya, untuk saham yang bersifat spekulatif atau fundamentalnya lemah, disiplin cut loss mutlak diperlukan, terutama jika harga sudah menembus level support penting.

"Prioritas utama saat volatilitas tinggi adalah menjaga modal," tegas mereka.

Nah, buat investor yang masih punya dana tunai atau 'cash', ingat pesan ini: jangan langsung terjun habis-habisan. Strategi bertahap jauh lebih bijak. Coba alokasikan sekitar 30 persen dana saat panic selling terjadi secara ekstrem. Lalu, tambah 30 persen lagi setelah ada konfirmasi rebound yang jelas. Sisakan 40 persen terakhir sebagai cadangan, kalau-kalau pasar kembali melanjutkan tren turunnya.

"Masuk bertahap membantu mengurangi risiko salah timing," kata mereka.

Riset itu juga mengingatkan untuk terus memantau faktor eksternal. Pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah adalah dua hal krusial. Jika harga minyak dunia tembus USD100 per barel, tekanan terhadap pasar berpotensi berlanjut. Begitu juga kalau rupiah melemah tajam, risiko capital outflow dari pasar modal bisa meningkat.

Untuk para trader jangka pendek, pendekatan defensif lebih disarankan. Hindari masuk saat kepanikan di awal perdagangan. Tunggu dulu pembentukan basis harga yang lebih solid, ambil keuntungan secara realistis, dan yang paling penting, disiplin cut loss untuk membatasi kerugian.

"Kesimpulannya, saat market terkoreksi dalam, pendekatan terbaik adalah disiplin, selektif, dan fokus pada manajemen risiko," pungkas BRI Danareksa.

Keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar