Di Jakarta, Selasa lalu, PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) menyerahkan dokumen teknis penting ke PT PLN. Ini bukan sekadar formalitas. Langkah ini menandai titik krusial untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bukit Daun di Bengkulu, yang rencananya bakal punya kapasitas 2x25 MW ditambah 2x5 MW.
Dengan penyerahan dokumen itu, proyek ini resmi masuk ke tahap evaluasi mendalam oleh PLN. Prosesnya bakal mengulik banyak hal: mulai dari sisi teknis dan keekonomian, sampai kesiapan integrasinya ke jaringan listrik yang ada. Semua ini adalah syarat wajib sebelum akhirnya nanti dituangkan dalam Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL).
Kalau dipikir-pikir, momentumnya memang pas. Pemerintah sedang gencar mendorong energi bersih, dan proyek Bukit Daun ini bisa jadi salah satu pengungkitnya. Bahkan, ini sejalan dengan target ambisius di RUPTL yang ingin menaikkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 76 persen dalam sepuluh tahun ke depan.
Menurut Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, pengembangan di Bukit Daun punya arti strategis.
"Kami sudah eksplorasi area ini sejak 2017 di wilayah Hululais. Sekarang, kami dorong percepatannya. Ini momentum yang tepat," ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa manfaatnya tak cuma untuk ketahanan energi nasional. Proyek semacam ini, kata Edwil, diharapkan bisa memicu efek berganda bagi perekonomian lokal. Mulai dari membuka lapangan kerja sampai meningkatkan pendapatan daerah.
"Visi kami jelas, ingin jadi pemimpin panas bumi dunia. Dan langkah konkret seperti inilah yang akan mewujudkannya," tambahnya.
Nah, setelah dokumen diserahkan, kerja sama PGE dan PLN akan masuk fase yang lebih teknis. Mereka akan mendalami kajian reservoir, desain fasilitas, hingga cara terhubungnya ke grid listrik regional. Tujuannya satu: memastikan proyek ini feasible, andal, dan berkelanjutan untuk jangka panjang.
Lokasi proyeknya sendiri berada di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Hululais, yang membentang di Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong, Bengkulu. Daerah ini punya potensi panas bumi yang menjanjikan, terletak di sistem gunung berapi nonaktif dengan kondisi geologi yang mendukung.
Menariknya, di wilayah yang sama, PGE juga sedang menggarap proyek lain: PLTP Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas jauh lebih besar, 110 MW. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang mereka di kawasan itu.
Secara keseluruhan, portofolio PGE memang terus mengembang. Saat ini mereka mengelola kapasitas terpasang 727 MW di enam wilayah operasi. Belum lagi proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power yang total kapasitasnya mencapai 230 MW. Perkembangannya patut ditunggu.
Artikel Terkait
Pria Diduga Mabuk Narkoba Tewaskan Ibu Tiri di Tangerang
KPK Ungkap Pola Klasik Korupsi: Uang Haram Kerap Dialirkan ke Selingkuhan
Warga dan TNI Mulai Bangun Jembatan Gantung di Klaten Atas Bantuan Presiden
BMKG Perpanjang Peringatan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter hingga 22 April