Bank Indonesia Sebut Stabilitas Rupiah Butuh Strategi Tim dan Kolaborasi Lintas Sektor

- Jumat, 05 Juni 2026 | 13:01 WIB
Bank Indonesia Sebut Stabilitas Rupiah Butuh Strategi Tim dan Kolaborasi Lintas Sektor

Bank Indonesia menganalogikan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah layaknya pertandingan sepak bola di kancah global membutuhkan kerja keras, strategi yang matang, dan amunisi yang lengkap. Lembaga tersebut menegaskan bahwa stabilitas mata uang nasional bukanlah target yang dapat dicapai melalui pergerakan individu, melainkan hasil dari kolaborasi lintas sektor yang solid.

“Ini bukan permainan individu. Untuk memenangkannya butuh kombinasi strategi yaitu moneter, fiskal, dan kepercayaan publik yang bergerak dalam satu arah,” demikian pernyataan resmi Bank Indonesia yang dikutip pada Jumat (5/6/2026).

Dalam ekosistem ini, masyarakat dan pelaku pasar memegang peran krusial sebagai sistem pendukung. Bank Indonesia menekankan bahwa keyakinan publik memiliki dampak langsung terhadap performa ekonomi di lapangan. Sorakan optimistis disebut mampu menguatkan tim, sementara keraguan justru dapat melemahkan permainan.

Sebagai motor penggerak stabilitas makroekonomi, Bank Indonesia memaksimalkan seluruh instrumen moneter yang dimilikinya melalui tujuh langkah strategis. Pertama, memperkuat intervensi secara berkelanjutan di pasar valas domestik maupun luar negeri melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pusat keuangan global.

Kedua, menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam beberapa bulan terakhir untuk menarik kembali aliran modal asing dan mendukung kecukupan pasokan valas. Ketiga, membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga likuiditas perbankan sekaligus sebagai bentuk sinergi erat dengan kebijakan fiskal. Sepanjang tahun 2026 hingga 19 Mei 2026, total pembelian SBN oleh Bank Indonesia telah mencapai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun secara transparan dan terukur.

Keempat, mempertahankan pertumbuhan uang primer di atas 10 persen untuk memastikan kecukupan likuiditas perbankan sesuai dengan arah ekspansi moneter. Kelima, menurunkan ambang batas tunai pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan mulai Juni 2026, serta memperluas transaksi Yuan-Rupiah dalam skema Local Currency Transaction (LCT).

Keenam, memperluas keikutsertaan perbankan dalam transaksi offshore NDF jual valas terhadap rupiah bagi Dealer Utama PUVA yang memenuhi kriteria Bank Indonesia. Ketujuh, bekerja sama erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawasi bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar AS dalam volume tinggi.

Di sisi lain, Bank Indonesia tidak hanya fokus pada kebijakan penstabil kurs. Lembaga tersebut juga memastikan energi perekonomian domestik tetap bergerak dan bertumbuh secara seimbang melalui lima pilar. Pilar pertama adalah menjaga kecukupan likuiditas lewat pembelian SBN di pasar sekunder dan mempertahankan tingginya pertumbuhan uang primer.

Kemudian, insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan mendorong perbankan mengalirkan kredit ke sektor-sektor prioritas seperti pertanian, industri, hilirisasi, ekonomi kreatif, konstruksi, perumahan, UMKM, dan sektor berkelanjutan. Selanjutnya, memperluas cakupan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) mulai 1 Juli 2026 guna memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perbankan dalam menghimpun dan menyalurkan dana.

Tidak berhenti di situ, sinergi Program PINISI diperkuat melalui koordinasi lintas otoritas melibatkan pemerintah, OJK, perbankan, dan dunia usaha dalam Program Percepatan Intermediasi Nasional agar pembiayaan ekonomi tumbuh optimal. Terakhir, Bank Indonesia memperluas ekosistem digital melalui penguatan QRIS, QRIS Antarnegara, serta program Pusat Inovasi Digitalisasi Indonesia (PIDI).

Pada akhirnya, Bank Indonesia mengingatkan kembali bahwa keberhasilan menavigasi tantangan ekonomi ini sangat bergantung pada kekompakan seluruh elemen bangsa. “Tapi, ini pertandingan tim yang tidak bisa dimenangkan sendirian. Karena pada akhirnya, yang bertahan adalah tim yang paling solid. Dan kita semua adalah bagian dari tim ini. Karena rupiah tidak hanya dijaga oleh kebijakan, tapi juga oleh keyakinan kita bersama,” demikian pernyataan Bank Indonesia.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar