Percepatan transisi dari energi fosil menuju energi bersih dinilai menjadi langkah krusial dalam mewujudkan kemandirian energi nasional di tengah dinamika global yang menuntut setiap negara mengamankan pasokan energinya. Pakar transisi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Retno Gumilang Dewi, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, salah satunya adalah panas bumi.
“Indonesia beruntung memiliki sumber daya panas bumi yang besar. Ini menjadi modal penting agar transisi energi tetap berjalan tanpa mengorbankan ketahanan energi nasional,” ujar Retno dalam keterangan tertulis, Jumat (5/6/2026).
Dalam pemanfaatan potensi tersebut, Retno menyoroti peran vital PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) sebagai badan usaha yang telah berhasil menjalankan eksplorasi. Menurutnya, dengan memperkuat PGE, Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian energi. Namun, ia menekankan bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan secara mendadak dan harus berlangsung secara bertahap. Hal ini dikarenakan energi fosil masih memegang peranan besar dalam menjaga keamanan pasokan selama masa peralihan.
“Jika perpindahan energi dilakukan secara mendadak, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Transisi harus dilakukan bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi,” kata Retno.
Sementara itu, tantangan besar dalam proses transisi energi, menurut Retno yang juga menjabat sebagai Senior Fellow SC UPER, terletak pada sektor transportasi. Ia menilai sektor ini memiliki kompleksitas yang cukup tinggi karena membutuhkan kesiapan teknologi, infrastruktur, hingga pasokan energi alternatif.
“Untuk kendaraan massal dan angkutan berat, perpindahan langsung dari BBM ke listrik tidak semudah kendaraan pribadi. Beban operasional, efisiensi energi, serta kesiapan ekosistem masih menjadi tantangan utama. Karena itu, penggunaan gas, biofuel, hingga pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) tetap perlu berjalan beriringan,” jelasnya.
Di sisi lain, Retno menambahkan pentingnya kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara target penurunan emisi dan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Menurutnya, target Net Zero Emission pada 2060 tetap membutuhkan tahapan transisi yang realistis, termasuk menjaga keberlangsungan energi fosil dalam periode tertentu sambil mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Retno melihat pemerintah terus mendorong bauran EBT melalui berbagai kebijakan nasional. Ia menilai energi panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menyediakan energi secara stabil dalam jangka panjang. Berbeda dengan energi terbarukan lain yang masih dipengaruhi kondisi cuaca, panas bumi dapat menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional.
“Karena itu, keberadaan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk sangat penting bukan hanya dalam konteks bisnis energi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi nasional menjaga kemandirian energi Indonesia di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pelemahan Rupiah Tekan Industri Penerbangan, Maskapai Tutup Sejumlah Rute Domestik
HYROX Gantikan Padel sebagai Tren Olahraga Urban, Tawarkan Kompetisi Kebugaran Global yang Terstandarisasi
Mahasiswa PNUP Raih Juara Pertama Videography Challenge di Kompetisi Bahasa Inggris Politeknik Nasional
Ketua KPK: Komitmen Prabowo Perkuat Penegak Hukum Bukan Sekadar Retorika