Jakarta lagi-lagi memantau dengan cemas perkembangan di Timur Tengah. Kali ini, suara yang muncul adalah Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY. Ketua Umum Partai Demokrat itu menyuarakan kekhawatiran yang mungkin juga ada di benak banyak orang: jangan sampai konflik yang terjadi bereskalasi jadi lebih besar.
Baginya, Ramadhan tahun ini ternoda oleh duka. Latarnya adalah meningkatnya ketegangan yang berujung pada agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
"Di berbagai belahan dunia, khususnya di Timur Tengah, kita menyaksikan konflik dan peperangan yang menimbulkan korban jiwa, penderitaan, dan kehancuran," ujar AHY di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Nada bicaranya serius. Intinya jelas: ini harus dihentikan sebelum titik kritis terlewati.
"Tentu kita semua tidak ingin Timur Tengah kemudian menjadi flashpoint yang bisa mengarah ke perang yang lebih dahsyat, apalagi menuju Perang Dunia Ketiga. Kita harus sekuat tenaga untuk bisa mencegah terjadinya itu," tegasnya.
Di titik itulah, menurut AHY, peran Indonesia menjadi krusial. Negeri ini punya tanggung jawab dan, mungkin, peluang untuk ikut mencegah skenario terburuk itu.
Namun begitu, ia tak menutup mata. Upaya menciptakan perdamaian dan mendorong deeskalasi memang bukan perkara gampang. Meski begitu, AHY tetap memberikan apresiasi pada langkah Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto yang terus mencari solusi.
Ia menambahkan, dengan kemauan yang kuat, jalan pasti akan ditemukan.
"Tentu ini bukanlah sesuatu yang mudah. But when there's a will, there's a way. Saya rasa juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Tuhan selalu menyiapkan jalan bagi siapa pun yang berikhtiar secara sungguh-sungguh," tutur AHY, menutup pernyataannya dengan sedikit harapan di tengah situasi yang suram.
Artikel Terkait
Claro Makassar Run 2026 Digelar 28 Juni, Hadirkan Dua Kategori Baru 5K dan 10K
Pelajar Tewas Jatuh dari Tebing Apparalang Bulukumba Saat Berfoto
Polisi Bekuk Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosaan Janda di Jeneponto yang Buron Lebih Setahun
Mantan Pejabat CIA Didakwa Curi Emas Rp640 Miliar, Akademisi Soroti Pentingnya Pengawasan Intelijen