Negosiasi AS-Iran Mentok, Gencatan Senjata di Ambang Batas Waktu

- Selasa, 21 April 2026 | 07:35 WIB
Negosiasi AS-Iran Mentok, Gencatan Senjata di Ambang Batas Waktu

Putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran lagi-lagi mentok. Nggak ada titik terang yang ditemukan. Dari Tehran, sindiran pedas dilayangkan ke arah Washington, khususnya menyoroti cara negosiasi yang dijalankan di era Presiden Donald Trump.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, yang ditunjuk sebagai negosiator utama, bersuara lantang. Lewat Al Jazeera, Selasa (21/4/2026), ia menyampaikan pandangannya yang cukup keras.

"Trump, dengan memberlakukan pengepungan dan melanggar gencatan senjata, berupaya mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan kembali provokasi perang," ujarnya.

Nada itu jelas. Iran merasa dipojokkan. Ghalibaf menegaskan negaranya tak mau berunding sambil dicekam ancaman. "Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman," tegasnya. Bahkan, ia menyebut dalam dua minggu terakhir Iran sudah bersiap dengan "kartu baru" di medan perang. Ancaman terselubung? Mungkin saja.

Di sisi lain, delegasi AS sudah sampai di Islamabad, Pakistan negara yang jadi tuan rumah kali ini. Wakil Presiden JD Vance termasuk yang telah tiba. Tapi, belum jelas apakah pihak Iran bakal muncul. Mereka tampaknya masih berpikir panjang, menimbang-nimbang segala sesuatunya.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April dan berdurasi dua pekan itu tinggal menghitung jam. Besok malam waktu Washington, masa berlakunya habis. Dan nasib perpanjangannya, menurut Trump, bergantung pada hasil negosiasi di Pakistan ini.

Dalam wawancaranya dengan Bloomberg yang dilansir CNN, Trump bersikap blak-blakan. Ia bilang, kecil kemungkinan ia akan memperpanjang gencatan senjata jika negosiasi nggak membuahkan hasil.

"Sangat tidak mungkin saya akan memperpanjangnya," kata Trump.

Dia terkesan santai, tak mau terburu-buru. "Saya tidak akan terburu-buru membuat kesepakatan yang buruk. Kita punya banyak waktu," ujarnya. Tapi ketika ditanya apakah pertempuran akan kembali meletus jika gagal deal, jawabannya lugas: "Jika tidak ada kesepakatan, saya tentu akan memperkirakannya."

Jadi, situasinya benar-benar di ujung tanduk. Di Islamabad, meja perundingan disiapkan. Tapi di Tehran, sikapnya masih mengambang. Dan tenggat waktu itu semakin dekat, menciptakan ketegangan yang makin terasa. Semuanya sekarang tergantung pada beberapa hari bahkan jam ke depan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar