21 April: Dari Hari Kartini Hingga Peristiwa Global dalam Lintasan Sejarah

- Selasa, 21 April 2026 | 06:40 WIB
21 April: Dari Hari Kartini Hingga Peristiwa Global dalam Lintasan Sejarah

Tanggal 21 April selalu punya cerita. Bukan cuma di Indonesia, tapi juga di sejumlah belahan dunia lain. Kalau di sini, ya, pasti langsung ingat sosok Raden Ajeng Kartini. Tapi ternyata, tanggal yang sama juga mencatat peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah menarik.

Mari kita mulai dari yang paling akrab di telinga kita: Hari Kartini. Setiap 21 April, kita memperingati perjuangan RA Kartini, seorang tokoh Jawa yang jadi simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Gagasannya yang tertuang dalam surat-surat, menginspirasi banyak orang.

Nah, penetapan hari peringatannya sendiri baru terjadi puluhan tahun setelah wafatnya. Presiden Soekarno lah yang mengukuhkannya lewat Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964, tepatnya pada 2 Mei 1964. Dalam keputusan itu, Kartini resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus ditetapkan hari lahirnya, 21 April, untuk diperingati setiap tahun.

Lompat ke ranah global, ada peristiwa penting di bidang pengetahuan. Tepat 21 April 2009, dunia punya Perpustakaan Digital Dunia atau World Digital Library. Bayangkan, proyek kolaborasi UNESCO dan Perpustakaan Kongres AS ini menghadirkan jutaan dokumen berharga dari seluruh penjuru dunia dalam format digital. Gratis! Tujuannya jelas, agar warisan budaya umat manusia bisa diakses siapa saja, kapan saja, hanya dengan sekali klik.

Di tanggal yang sama, tapi di tahun 1864, dunia menyambut kelahiran seorang pemikir besar. Namanya Max Weber. Kalau kamu pernah belajar sosiologi atau ilmu politik, pasti nggak asing dengan namanya. Karyanya, "The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism", itu lho, yang ngomongin kaitan antara etika agama Protestan dengan munculnya kapitalisme. Gagasannya soal negara yang punya monopoli kekuatan fisik yang sah, juga masih sering jadi rujukan sampai sekarang.

Kembali ke dalam negeri, tanggal ini juga menandai kepergian seorang tokoh militer dan politik. Jenderal TNI (Purn) Amir Machmud wafat pada 21 April 1995. Posisinya saat peristiwa penting 1966 sangat krusial. Saat itu, sebagai Panglima Kodam V/Jaya, dia termasuk salah satu saksi mata penandatanganan Surat Perintah 11 Maret atau yang kita kenal sebagai Supersemar. Peralihan kekuasaan yang momen bersejarah itu. Karirnya kemudian berlanjut, dia dipercaya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri mulai tahun 1969.

Jadi, sederet peristiwa itu cuma secuil catatan. Dari sosok pahlawan emansipasi, proyek digitalisasi pengetahuan global, kelahiran seorang filsuf, hingga wafatnya seorang pelaku sejarah. Semuanya bertemu di satu tanggal: dua puluh satu April.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar