Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, DPR: Stabilitas Kawasan Sangat Rentan

- Senin, 20 April 2026 | 06:20 WIB
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, DPR: Stabilitas Kawasan Sangat Rentan

Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Iran kembali menutup Selat Hormuz. Padahal, baru dua belas jam sebelumnya selat itu dibuka. Bagi Dave, langkah ini cuma bukti satu hal: stabilitas keamanan di Timur Tengah memang sangat rentan.

“Ini situasi yang mengkhawatirkan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

“Gangguan di jalur perdagangan internasional jelas berdampak luas. Bukan cuma soal arus barang, tapi juga pasokan energi global. Indonesia pun ikut merasakan imbasnya.”

Di sisi lain, Dave mengakui pemerintah punya cadangan. Kerja sama dengan beberapa negara, termasuk Rusia, sudah dijalin untuk mengamankan pasokan energi. Tapi, ia mengingatkan, jangan sampai lengah.

“Ketergantungan pada jalur perdagangan internasional tetaplah risiko. Kita harus selalu waspada dan punya langkah antisipatif,” tegasnya.

Yang paling mendesak sekarang, menurut Dave, adalah nasib dua kapal tanker milik Pertamina. Kapal-kapal itu masih terjebak di Selat Hormuz. Ia mendorong pemerintah untuk segera bertindak.

“Diplomasi intensif harus dijalankan, lewat jalur bilateral maupun multilateral. Keselamatan awak kapal dan aset negara adalah prioritas,” papar Dave.

Ia yakin, pendekatan diplomasi yang konstruktif bisa jadi kunci. “Ini cara untuk meredakan ketegangan dan mencegah konflik meluas.”

Sebelumnya, Iran bersikukuh. Selat Hormuz tak akan dibuka selama Amerika Serikat masih memblokade pelabuhan mereka dengan angkatan laut. Kebijakan buka-tutup ini terjadi dalam rentang kurang dari satu hari, menambah suasana tidak pasti di kawasan itu.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar