Analis: Ketegangan Geopolitik Picu Pelemahan IHSG, Sektor Energi Jadi Peluang

- Kamis, 05 Maret 2026 | 04:20 WIB
Analis: Ketegangan Geopolitik Picu Pelemahan IHSG, Sektor Energi Jadi Peluang

Pasar saham lagi melemah, dan sentimennya memang suram. Tapi di balik itu, ada yang bilang justru muncul peluang. Konflik geopolitik antara AS, Israel, dan Iran bikin banyak investor cemas, namun di sisi lain, situasi ini bisa jadi angin segar untuk beberapa emiten di sektor energi.

Menurut Hendra Wardana, pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor, kenaikan harga komoditas seperti minyak dan batu bara biasanya bikin sektor energi bersinar. "Sektor energi menjadi pihak yang paling diuntungkan," ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Dia menyebut beberapa nama yang berpotensi dapat sentimen positif. Untuk migas, ada APEX, ENRG, ELSA, dan MEDC. Sementara di batu bara, emiten seperti AADI, ADRO, ITMG, dan PTBA patut dicermati.

Namun begitu, ceritanya bakal beda untuk sektor lain. Hendra mengingatkan, ketika inflasi energi naik, sektor-sektor yang paling ketiban beban adalah transportasi, logistik, manufaktur, dan konsumer. Biaya operasional yang membengkak berpotensi memangkas margin perusahaan dan sekaligus melemahkan daya beli masyarakat.

Jadi, bagaimana sebaiknya investor bersikap?

"Bagi investor, situasi ini menuntut keseimbangan antara kehati-hatian dan keberanian mengambil peluang," tutur Hendra. Intinya, jangan panik, tapi juga jangan gegabah.

Dia menekankan, sekarang saatnya lebih jeli memilih saham dengan fundamental kuat. Cari yang arus kasnya sehat dan manajemen risikonya solid. Di tengah ketidakpastian seperti sekarang, kualitas portofolio dan pengaturan porsi aset jauh lebih penting ketimbang cuma ikut-ikutan mengejar momentum sesaat.

Ke depan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir Maret ini kemungkinan besar akan ditentukan dua hal: harga minyak dunia dan stabilitas Rupiah. Selama harga minyak Brent bertahan di bawah level USD90 per barel, tekanan di pasar mungkin cuma volatilitas jangka pendek biasa.

Tapi skenarionya bisa berubah. "Jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam," proyeksinya. Secara teknikal, zona 7.500–7.600 jadi penopang psikologis yang krusial.

Proyeksinya ada dua. Kalau ketegangan mereda dan Rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound perlahan ke kisaran 7.900–8.100 di akhir Maret. Sebaliknya, kalau konflik malah meluas dan tekanan fiskal makin berat, indeks berisiko untuk kembali menguji area yang lebih rendah, sekitar 7.400.

Sentimen negatif itu jelas terpantau di perdagangan Rabu (4/3/2026). IHSG ditutup di level 7.577, terpangkas 4,57 persen. Pergerakannya hari itu cukup ekstrem, sempat menyentuh level tertinggi 7.897 dan terendah di 7.486. Transaksi hariannya mencapai Rp29,72 triliun dengan volume 53,61 miliar saham.

Mayoritas saham berakhir di zona merah. Tercatat 734 saham melemah, sementara yang naik cuma 54, dan 33 lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar pun menyusut ke Rp13.549,4 triliun.

Pelemahannya merata hampir di semua sektor. Dari bahan baku, properti, konstruksi, sampai perbankan ikut terimbas. Beberapa emiten bahkan koreksinya dalam. INCO di sektor market resources anjlok 10,07 persen. Lalu ada SSIA di properti yang melemah 7,97 persen, dan SMGR di konstruksi yang turun 8,09 persen.

Memang, suasana pasarnya lagi berat. Tapi seperti kata Hendra, di setiap koreksi selalu ada peluang yang bersembunyi. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar