Satgas PRR Kawal Ketat Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Aceh dan Sumatera

- Minggu, 07 Juni 2026 | 20:15 WIB
Satgas PRR Kawal Ketat Pemulihan Infrastruktur Pascabencana di Aceh dan Sumatera

Pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus dikawal ketat oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera. Sejumlah proyek strategis, mulai dari penanganan jalan, jembatan, tanggul, hingga pengendalian sungai, dipastikan berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Pemantauan dilakukan secara langsung oleh Satgas bersama Balai Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, dan para pelaksana proyek. Tim turun ke sejumlah titik prioritas untuk meninjau perkembangan pekerjaan sekaligus menyerap berbagai kendala di lapangan, seperti kebutuhan material, pembebasan lahan, hingga pasokan bahan bakar bagi alat berat.

Di Aceh Tengah, misalnya, pekerjaan penanganan longsor, penguatan lereng, perbaikan badan jalan, dan pembangunan dinding penahan tanah terus menunjukkan kemajuan. Satgas mendorong agar pekerjaan pada titik-titik kritis dapat diselesaikan lebih cepat. Langkah ini penting agar akses utama masyarakat tidak kembali terganggu saat curah hujan meningkat pada akhir tahun.

Percepatan juga dilakukan pada proyek jalan dan jembatan yang menghubungkan kawasan Aceh Tengah dan Gayo Lues. Ruas-ruas yang sebelumnya mengalami kerusakan berat akibat longsor kini tengah dalam tahap penanganan. Secara terpadu, normalisasi sungai dan penguatan tebing turut dikerjakan guna mengurangi risiko kerusakan berulang di masa mendatang.

“Satgas menekankan pentingnya sinergi antara pembangunan infrastruktur jalan dan pengendalian aliran sungai agar hasil pemulihan dapat bertahan dalam jangka panjang,” demikian keterangan resmi Satgas PRR, Minggu (7/6/2026).

Sementara itu, di wilayah Gayo Lues, perhatian khusus diberikan pada pembangunan tanggul pengaman sungai. Infrastruktur ini diharapkan mampu melindungi permukiman dan lahan produktif masyarakat. Mengingat tingginya intensitas hujan di kawasan tersebut, Satgas meminta agar pekerjaan yang semula ditargetkan selesai pada Agustus dapat dipercepat. Dengan demikian, perlindungan bagi warga dapat terwujud sebelum puncak musim penghujan tiba.

Di kawasan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Satgas meninjau langsung pembangunan tanggul pengendali banjir, jalan, serta jembatan yang menjadi akses utama masyarakat. Para pekerja di lapangan bahkan melakukan percepatan hingga malam hari demi menjaga target penyelesaian proyek.

Dalam pertemuan bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Satgas menerima berbagai masukan terkait kebutuhan pemulihan layanan publik. Salah satu usulan yang mencuat adalah perbaikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Seluruh masukan tersebut akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

Di Desa Kutagaluh, Kecamatan Lawe Bulan, penguatan dinding sungai mulai memberikan rasa aman bagi warga. Pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas pembangunan tanggul yang dinilai mampu mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman banjir susulan.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pemulihan infrastruktur dasar menjadi prioritas utama di tiga provinsi terdampak. “Yang diprioritaskan adalah infrastruktur, sungai, jalan, jembatan, perdagangan, pertanian, kemudian huntap juga penting supaya masyarakat tidak terlalu lama di huntara,” kata Tito usai rapat dengan Ketua Tim Pengarah Satgas PRR, Pratikno, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar