Ini bukan kali pertama. Catatan IRGC menunjukkan serangkaian keberhasilan yang, jika benar, sangat mencengangkan. Sejak konflik memanas, mereka mengklaim telah menjatuhkan dua F-35, satu F-18, dua F-16, dan empat F-15. Kerugian besar bagi angkatan udara manapun.
Di sisi lain, respons AS terkesan dikelola dengan hati-hati. Pentagon secara resmi hanya mengonfirmasi hilangnya tiga F-15 dan sebuah pesawat tanker KC-135. Untuk insiden lainnya, narasi yang dikeluarkan seringkali mengarah pada "tembakan salah sasaran" atau sekadar "kecelakaan" biasa.
Ada satu laporan menarik dari Maret lalu. Saat itu, media AS mengonfirmasi sebuah F-35 melakukan pendaratan darurat di sebuah pangkalan di Asia Barat. Penyebabnya diduga kuat adalah tembakan dari Iran. Meski awalnya coba diremehkan, laporan lanjutan dari NPR menyebut pesawat itu rusak parah dan tak akan bisa terbang dalam waktu dekat.
Yang paling menggelitik adalah pengumuman militer AS soal jatuhnya sebuah F-35… di Nevada. Banyak pengamat yang menyambutnya dengan skeptis. Mereka menilai itu mungkin hanya cerita tutup-tutupan yang putus asa, sebuah upaya untuk mengalihkan perhatian dari kemungkinan hilangnya aset berharga itu di medan perang yang sebenarnya.
Jadi, di lapangan, situasinya ternyata jauh lebih berdebu dan rumit daripada sekadar klaim kemenangan dari satu pihak. Setiap pengumuman, baik dari Tehran maupun Washington, membawa muatan politisnya sendiri. Dan di tengah semua itu, yang jelas, harga sebuah jet tempur siluman itu sangatlah mahal baik secara finansial maupun politik.
Artikel Terkait
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April
Iran Tuntut Penarikan Pasukan AS dan Ganti Rugi sebagai Syarat Akhiri Perang
Menteri Iran Tuduh Israel Sensor Dampak Serangan Balasan