PSS Sleman di Puncak Pegadaian Championship, Tekanan Meningkat Jelang Akhir Musim

- Kamis, 02 April 2026 | 23:00 WIB
PSS Sleman di Puncak Pegadaian Championship, Tekanan Meningkat Jelang Akhir Musim

SLEMAN PSS Sleman berjalan di atas tali. Di puncak klasemen Pegadaian Championship, satu hasil imbang saja rasanya ambigu. Di satu sisi, mereka masih bertahan. Di sisi lain, pesaing di belakang mereka makin mendekat. Hasil 1-1 melawan Kendal Tornado FC pekan lalu adalah buktinya. Satu poin itu terasa, ya, kurang greget.

Memang, posisi mereka masih lumayan aman. Tapi di fase akhir kompetisi seperti sekarang, setiap poin yang terlewat terasa mahal harganya. Sementara PSS cuma mampu imbang, tim-tim lain justru menang. Persipura Jayapura, misalnya, berhasil menggasak Deltras. Barito Putera juga terus mengintai dari belakang. Persaingan makin panas, dan tekanan psikologisnya jelas terasa.

Lantas, bagaimana PSS menyikapinya? Menariknya, mereka justru mencoba mengolah tekanan itu jadi bahan bakar. Gelandang andalan, Riko Simanjuntak, mengaku ketatnya persaingan malah memacu semangat.

“Kita harus fokus dan konsisten. Musim ini, yang menang pasti tim yang paling stabil, bukan yang cuma sesekali main bagus,” ujar Riko.

Pernyataannya sederhana, tapi tepat. Soalnya, stabilitas itu barang langka di fase krusial. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Sebaliknya, kemenangan sekecil apapun bisa jadi modal mental yang berharga.

Nah, ujian berikutnya sudah menunggu. PSS akan menjamu Persipal FC di kandang sendiri, Stadion Maguwoharjo. Ini pertandingan yang wajib dimenangkan. Main di depan pendukung sendiri bukan cuma soal keuntungan teknis, tapi juga soal kewajiban moral. Mereka harus tampil meyakinkan.

Riko sendiri sadar betul dengan tuntutan itu. Poin di kandang tidak boleh terbuang lagi. Itu bukan target, tapi sudah jadi keharusan mutlak. Di persaingan sekencang ini, kandang harus jadi benteng yang kokoh.

Tapi ceritanya nggak cuma bergantung pada hasil kerja mereka sendiri. Ada faktor lain yang bisa berpengaruh besar: hasil pertandingan rival. Dan di pekan ini, semua mata akan tertuju ke Semarang.

PSIS Semarang akan berjumpa dengan Barito Putera. Laga ini penting banget buat peta persaingan. Barito, yang masih ngotot mengejar, dapat lawan yang sulit. PSIS lagi dalam tren bagus dan berpotensi jadi batu sandungan buat Laskar Antasari.

Buat PSS, situasi ini jelas peluang. Kalau Barito tumbang atau cuma dapat satu poin, jarak di papan atas bisa mereka lebarkan. Dalam situasi tertentu, PSIS bisa dibilang jadi “sekutu tak langsung” bagi PSS. Tapi, ya, bergantung pada hasil orang lain jelas bukan strategi yang bijak. PSS tetep harus menang dulu. Konsistensi, sekali lagi, adalah kunci segalanya.

Di balik semua perhitungan teknis ini, ada mimpi yang lebih besar. Ambisi PSS bukan cuma promosi. Mereka ingin kembali ke panggung utama, bertarung melawan raksasa-raksasa seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung di Super League Indonesia.

Nama-nama besar itu adalah standar yang ingin mereka capai. Kembali ke level tertinggi berarti mengembalikan harga diri, memenuhi ekspektasi puluhan ribu suporter yang setia menunggu di Maguwoharjo.

Jalan menuju sana tahun ini terbuka lebar, meski berat. Nggak ada tim yang benar-benar dominan. Nggak ada yang merasa aman. Semuanya ditentukan oleh siapa yang paling tahan banting di sisa laga.

PSS sekarang ada di persimpangan. Mereka punya modal: posisi bagus, pemain berpengalaman, dan dukungan suporter yang luar biasa. Tapi mereka juga sadar, satu langkah slip bisa merusak segalanya.

Setiap pertandingan ke depan punya ceritanya sendiri. Laga kontra Persipal, duel PSIS vs Barito, hingga pertarungan sengit di pekan-pekan penutup semuanya saling berkait. Narasi besar tentang promosi akan teranyam dari sini.

Dan jika akhirnya PSS berhasil melangkah naik, perjalanan ini akan dikenang. Bukan cuma karena kemenangan gemilang, tapi lebih karena ketahanan mental mereka. Kemampuan memetik poin di saat sulit, dan memanfaatkan setiap peluang bahkan peluang yang datang dari hasil pertandingan tim lain.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar