Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tak main-main. Lewat akun X-nya, Selasa lalu, dia mengecam habis rezim Israel yang disebutnya menyensor habis-habisan dampak serangan balasan Iran. Intinya sederhana: Netanyahu tak mau dunia melihat hasilnya.
"Netanyahu tidak ingin Anda melihat bagaimana Angkatan Bersenjata Iran yang kuat menghukum Israel atas agresinya," ujar Araghchi, seperti dilaporkan Press TV.
Dia bahkan menyebut punya laporan langsung dari lapangan. "Kehancuran total akibat rudal kami, pemimpin yang panik, pertahanan udara mereka kacau balau," bebernya. Dan dia menegaskan, ini baru permulaan. "Kita baru saja memulai," tandasnya.
Semua ini berawal dari agresi militer AS dan Israel pada 28 Februari lalu serangan tanpa provokasi yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan sejumlah komandan tinggi militer. Iran pun tak tinggal diam. Balasan datang cepat: rentetan rudal dan drone menghujani wilayah pendudukan Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan.
Di sisi lain, sensor militer Israel berusaha mati-matian menutupi semua informasi. Upaya mereka terbilang ekstensif, hampir menyeluruh. Tapi rupanya, upaya pengendalian narasi itu tak sepenuhnya berhasil.
Beberapa media berbahasa Ibrani terpaksa mengakui adanya "korban jiwa." Pengakuan itu sekaligus jadi petunjuk: serangan Iran kali ini memang memberi pukulan serius, bahkan bisa dibilang belum pernah terjadi sebelumnya, kepada entitas tersebut.
Tak cuma soal militer, Araghchi juga menyoroti isu ekonomi. Dia memperingatkan bahwa pejabat AS kerap memanipulasi pasar dengan menyebar berita palsu. "Ini tidak akan menyelamatkan mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika," katanya tegas.
Faktanya, pasar sedang menghadapi kerugian dan kesenjangan terbesar sepanjang sejarah lebih buruk dari embargo minyak Arab 1973, lebih parah dari Revolusi Islam Iran 1979, bahkan melebihi krisis akibat invasi Irak ke Kuwait tahun 1990.
Sebelumnya, di platform yang sama, Araghchi sudah membantah keras segala klaim bahwa Iran berniat menyerang AS atau pasukannya. Menurutnya, itu cuma kebohongan belaka.
"Satu-satunya tujuan kebohongan ini adalah membenarkan 'operasi kesalahan besar' sebuah petualangan berbahaya yang dirancang Israel dan dibiayai oleh warga Amerika biasa," tukasnya.
Jadi, suasana memang sedang tegang. Dari Tehran sampai Tel Aviv, perang kata-kata dan rudal berjalan beriringan. Dan seperti kata Araghchi, mungkin ini benar-benar baru awal.
Artikel Terkait
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara