Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, disebut tengah bersembunyi di lokasi yang sangat rahasia dengan akses komunikasi yang sangat terbatas ke dunia luar, bahkan bagi para pejabat tinggi di pemerintahannya sendiri. Informasi ini terungkap dalam laporan intelijen Amerika Serikat yang dikutip oleh CBS News, Senin (25/5/2026), dengan merujuk pada sejumlah pejabat intelijen AS yang enggan disebutkan namanya.
Menurut laporan tersebut, Khamenei hanya dapat dihubungi melalui jaringan kurir yang rumit. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama lambatnya perkembangan negosiasi potensial antara Iran dan Amerika Serikat. “Para pejabat Iran yang diberi wewenang untuk bekerja sama dengan pemerintahan Trump mengalami kesulitan berkomunikasi di dalam sistem pemerintahan mereka sendiri,” tulis laporan itu. “Ketika AS mengirimkan detail yang diusulkan, kesulitan untuk menghubungi pemimpin tertinggi berarti dapat terjadi penundaan yang lama sebelum AS menerima tanggapan.”
Khamenei, yang disebut mengalami luka dalam serangan di awal perang, mengambil langkah ekstrem untuk menjaga keselamatannya. Sejak perang melawan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, ia belum pernah terlihat atau terdengar di depan umum. Sesekali, pernyataan yang dikaitkan dengannya muncul melalui media pemerintah Iran. “Secara sengaja, bahkan para pejabat di tingkat tertinggi pemerintah Iran pun tidak tahu di mana dia berada dan tidak memiliki cara untuk menghubunginya secara langsung,” demikian bunyi laporan CBS. “Pesan-pesan disampaikan melalui jaringan kurir yang dibuat untuk menyembunyikan lokasinya.”
Salah seorang pejabat yang dikutip dalam laporan itu mengungkapkan kekesalannya. “Setiap informasi yang dia terima sudah ketinggalan zaman dan ada banyak keterlambatan dalam tanggapannya,” ujarnya. “Inilah mengapa Anda melihat orang-orang mengatakan hal-hal seperti, 'Pemimpin tertinggi telah menyetujui kerangka kerja', atau 'Kami menunggu kabar tentang poin-poin kesepakatan akhir'.”
Mojtaba Khamenei mengambil alih posisi Pemimpin Tertinggi pada Maret 2026 setelah dipilih oleh ulama senior di Majelis Pakar. Sementara itu, seorang juru bicara Gedung Putih menolak berkomentar mengenai intelijen tentang keberadaan Khamenei maupun metode komunikasi Iran. Namun, seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Khamenei telah menyetujui garis besar draf perjanjian saat ini. Presiden Trump sendiri melalui unggahan di Truth Social mengatakan bahwa ia mengantisipasi keputusan akhir dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, pejabat AS mengungkapkan bahwa intelijen AS dan Israel yang diperoleh dari dalam pemerintahan Iran telah memungkinkan mereka untuk menemukan dan melenyapkan sebagian besar pemimpin senior Republik Islam selama perang. Saat ini, sebagian besar pemimpin Iran tidak lagi terpapar cahaya matahari. Mereka menghabiskan waktu berminggu-minggu di dalam bunker yang sangat dibentengi dan menghindari komunikasi satu sama lain kecuali benar-benar diperlukan. “Melihat mereka berusaha mencari cara untuk berkomunikasi satu sama lain hampir seperti menonton sitkom. Mereka benar-benar frustrasi,” kata seorang pejabat AS.
Artikel Terkait
Iran Pancarkan Sinyal Diplomasi dan Perlawanan di Tengah Negosiasi dengan AS
Arab Saudi dan Kuwait Tutup Akses Pangkalan, Operasi Militer AS di Selat Hormuz Terhenti
AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Trump Sebut Gencatan Senjata Masih Berlaku
Kremlin Perketat Keamanan Putin di Tengah Kekhawatiran Kudeta dan Gelombang Pembunuhan Tokoh Militer