Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menuding Amerika Serikat dan Israel tengah berupaya menciptakan perpecahan di dalam negeri untuk menutupi kegagalan mereka di medan perang. Tuduhan itu disampaikan melalui pernyataan tertulis yang dirilis media pemerintah Iran, tanpa menyebut secara rinci peristiwa militer yang dimaksud.
Dalam pernyataannya, Khamenei menyebut musuh memiliki rencana buta setelah perang yang dipaksakan, tekanan ekonomi, serta pengepungan politik dan propaganda. “Rencana itu adalah untuk menciptakan perpecahan dan disintegrasi guna menutupi kekalahan militer dan membuat bangsa ini bertekuk lutut,” ujarnya. Ia kemudian menyerukan persatuan nasional dan kohesi seluruh elemen bangsa untuk menghadapi serangan tersebut.
Sementara itu, ketegangan kian memanas di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi secara terpisah mengutuk serangan rudal yang menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait. Dari ketiga negara tersebut, hanya UEA yang secara eksplisit menyebut Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas apa yang mereka sebut sebagai “serangan teroris”.
Dalam pernyataan yang dibagikan melalui media sosial, kementerian luar negeri ketiga negara itu menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Kuwait. Mereka juga menyatakan solidaritas penuh dengan Kuwait serta dukungan terhadap semua langkah yang diambil untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan stabilitas negara tersebut.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Al-Budaiwi, juga mengecam keras serangan terhadap pangkalan udara AS di Kuwait. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa kelanjutan serangan berbahaya semacam itu merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan prinsip bertetangga baik. “Yang Mulia menegaskan dukungan penuh negara-negara GCC untuk Kuwait dalam semua langkah yang diambil untuk menjaga keamanan dan stabilitasnya, serta keselamatan warga dan penduduknya,” tambah pernyataan tersebut.
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi Rahasia, Hambat Negosiasi dengan AS
Iran Pancarkan Sinyal Diplomasi dan Perlawanan di Tengah Negosiasi dengan AS
Arab Saudi dan Kuwait Tutup Akses Pangkalan, Operasi Militer AS di Selat Hormuz Terhenti
AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Trump Sebut Gencatan Senjata Masih Berlaku