Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital

- Kamis, 02 April 2026 | 10:40 WIB
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital

Di dunia yang semakin terhubung, propaganda politik menemukan wajah barunya. Bukan lagi sekadar poster atau siaran radio, melainkan pasukan siber yang bergerak di linimasa media sosial. Praktik penggunaan "troll army" ini kini dinilai sebagai instrumen penting untuk membentuk bahkan membengkokkan opini publik.

Rajib Nandy, Associate Professor Ilmu Komunikasi dan Jurnalisme dari University of Chittagong, mengamati tren ini dengan cermat. Menurutnya, rezim otoriter semakin lihai menggabungkan narasi nasionalisme dengan strategi penyebaran disinformasi. Tujuannya jelas: mempolarisasi ruang digital.

"Troll army tidak lagi hanya berfungsi untuk membungkam kritik," ujar Nandy.

"Mereka juga menciptakan suasana permusuhan kolektif yang terorganisasi."

Pernyataannya itu dikutip dari Daily Times of Bangladesh, Kamis (2/4/2026). Melalui aktivitas terkoordinasi, kelompok seperti ini mampu mengarahkan percakapan publik dan dengan sistematis melemahkan suara-suara yang berseberangan. Arena utamanya? Media sosial. Di sana, diskursus rasional seringkali kalah oleh narasi yang dibangun lewat pengulangan, emosi, dan tentu saja, manipulasi.

Fenomena ini global. Namun, Nandy menyoroti satu contoh yang ia anggap paling kompleks: China. Negeri Tirai Bambu itu memiliki sistem pengelolaan ruang digital yang sangat mapan. Ada jaringan komentator pro-pemerintah yang dikenal luas sebagai "50 Cent Party" atau Wumao Dang. Jumlahnya masif, dan perannya vital untuk memperkuat narasi negara.

"Aktivitas mereka bukan cuma menanggapi kritik," tutur Nandy.

"Tapi juga mengarahkan diskusi. Caranya dengan membanjiri ruang digital dengan konten positif atau isu pengalih yang tidak relevan, khususnya saat ada topik sensitif."

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar