Militer Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap tiga kapal perang Amerika Serikat yang tengah melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam. Amerika Serikat membalas dengan membombardir wilayah Qeshm dan Bandar Abbas, yang salah satunya disebut menargetkan instalasi militer Republik Islam, pada Jumat dini hari.
Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara telepon dengan ABC News, menyebut serangan balasan itu sebagai “sentuhan kasih sayang.” Ketika ditanya apakah tindakan tersebut menandakan berakhirnya gencatan senjata, Trump menjawab, “Tidak, tidak, gencatan senjata masih berlangsung. Itu masih berlaku.” Sebelumnya, dalam unggahan di Truth Social pada Kamis malam, ia menulis bahwa AS akan menghancurkan Iran “jauh lebih keras dan jauh lebih brutal” jika negara itu tidak segera menandatangani kesepakatan merujuk pada memorandum satu halaman yang dilaporkan bertujuan mengakhiri konflik dua bulan di Timur Tengah.
Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), Iran meluncurkan sejumlah rudal, drone, dan serangan kapal kecil ke arah kapal perang USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason. CENTCOM mengklaim tidak ada kapal yang terkena karena pasukan AS berhasil mencegat setiap ancaman. “CENTCOM tidak mencari eskalasi, tetapi tetap berada di posisi dan siap melindungi pasukan Amerika,” demikian pernyataan resmi mereka seperti dikutip The Hill.
Koresponden keamanan nasional utama Fox News, Jennifer Griffin, melaporkan melalui platform media sosial X bahwa serangan balasan AS menghantam wilayah Qeshm dan Bandar Abbas. Peristiwa ini terjadi hanya dua hari setelah Iran dituduh menembakkan 15 rudal balistik dan rudal jelajah ke Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab.
Griffin juga menyebutkan bahwa negara-negara Teluk Persia marah karena Pentagon tidak mengklasifikasikan serangan Iran terhadap kapal-kapal AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. Sementara itu, menurut laporan NBC News, Trump membatalkan Project Freedom sebuah inisiatif untuk melindungi kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz dari serangan Iran setelah Arab Saudi menutup wilayah udaranya untuk operasi tersebut.
Beberapa jam setelah penghentian Proyek Kebebasan pada Selasa malam, muncul laporan bahwa AS dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang. Berdasarkan laporan Axios, nota kesepahaman satu halaman mengatur agar kedua belah pihak mengambil langkah-langkah membuka kembali Selat Hormuz untuk semua lalu lintas komersial selama 30 hari guna membahas kesepakatan yang lebih komprehensif.
Namun, tiga pejabat Iran yang dekat dengan negosiasi mengatakan kepada The New York Times bahwa hambatan utama masih ada. AS menuntut Iran berkomitmen menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya, menutup tiga fasilitas nuklir, dan menangguhkan pengayaan selama 20 tahun. Sebaliknya, Iran mengusulkan untuk mengencerkan uraniumnya dan mengirimkannya ke negara ketiga, kemungkinan Rusia, serta menangguhkan pengayaan selama 10 hingga 15 tahun.
Di sisi lain, para pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintahan Trump berupaya meluncurkan kembali Proyek Kebebasan. Trump sendiri mengklaim menghentikan operasi tersebut atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif demi menenangkan situasi dan membuka jalan bagi kesepakatan perdamaian.
Artikel Terkait
Kremlin Perketat Keamanan Putin di Tengah Kekhawatiran Kudeta dan Gelombang Pembunuhan Tokoh Militer
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek