Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek

- Kamis, 23 April 2026 | 04:15 WIB
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek

Perang dengan Iran ternyata menyisakan masalah serius bagi Pentagon. Persediaan rudal utama militer AS terkuras signifikan, dan menurut beberapa sumber dalam, kondisi ini menciptakan 'risiko jangka pendek' kehabisan amunisi jika konflik baru meletup dalam beberapa tahun mendatang. Akibatnya, posisi pertahanan Amerika terlihat makin rapuh.

Analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap angka-angka yang mencengangkan. Selama tujuh pekan perang, militer AS menghabiskan sedikitnya 45 rudal dari persediaan Rudal Serangan Presisi. Mereka juga memakai separuh dari stok rudal THAAD sistem yang dirancang khusus untuk mencegat rudal balistik. Belum lagi, hampir 50 rudal pencegat pertahanan udara Patriot ikut terkuras. Menariknya, angka-angka ini disebut-sebut sangat sesuai dengan data rahasia internal Pentagon.

Memang, awal tahun ini Pentagon sudah menandatangani sejumlah kontrak untuk memperluas produksi. Tapi masalahnya, penggantian sistem-sistem canggih ini bukan urusan cepat. Para ahli CSIS dan sumber terkait memperkirakan, butuh waktu tiga sampai lima tahun untuk mengisi kembali persediaan, meski kapasitas produksi ditingkatkan.

Dalam jangka pendek, AS mungkin masih punya cukup bom dan rudal untuk melanjutkan operasi melawan Iran jika gencatan senjata yang ada runtuh. Namun begitu, stok amunisi penting yang tersisa dikhawatirkan tak lagi memadai untuk menghadapi musuh setara, sebut saja China. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum persediaan kembali ke level sebelum perang.

“Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan celah kerentanan yang meningkat di Pasifik barat,” ujar Mark Cancian, Kolonel Korps Marinir AS yang sudah pensiun dan salah satu penulis laporan CSIS.

“Akan dibutuhkan satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan ini dan beberapa tahun setelah itu untuk memperluasnya hingga mencapai jumlah yang dibutuhkan.”

Menanggapi hal ini, juru bicara utama Pentagon Sean Parnell punya pernyataan tegas. Lewat sebuah pernyataan, dia menegaskan militer “memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden.”

“Sejak Presiden Trump menjabat, kami telah melaksanakan beberapa operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami,” katanya.

Di sisi lain, kerusakan persediaan ternyata lebih luas. Analisis dan sumber tadi menyebut, militer AS juga menghabiskan sekitar 30 rudal Tomahawk, lebih dari 20 rudal jarak jauh JASSM, dan sekitar 20 rudal SM-3 dan SM-6. Nah, untuk mengganti sistem-sistem ini saja, diperlukan waktu sekitar empat sampai lima tahun.

Fakta-fakta soal menipisnya persediaan ini agak kontras dengan klaim Presiden Donald Trump. Belakangan ini ia menyatakan AS tidak kekurangan persenjataan apa pun, meski di saat bersamaan meminta pendanaan tambahan untuk rudal akibat dampak perang Iran.

“Kami meminta karena banyak alasan, bahkan di luar apa yang sedang kita bicarakan di Iran,” kata Trump bulan lalu, merujuk pada permintaan dana tambahan Pentagon. “Amunisi khususnya, di tingkat atas kita memiliki banyak, tetapi kita melestarikannya.”

“Ini adalah harga kecil yang harus dibayar untuk memastikan bahwa kita tetap berada di puncak,” tambahnya.

Laporan CSIS juga menyinggung soal pengiriman senjata ke sekutu. Kesepakatan terbaru pemerintahan Trump dengan perusahaan swasta diharapkan bisa mendongkrak produksi. Tapi, pengiriman amunisi penting dalam waktu dekat tetap rendah, salah satunya karena pesanan di masa lalu yang jumlahnya kecil.

Sebelum perang mulai, sebenarnya para pimpinan militer sudah mengingatkan Trump. Jenderal Dan Caine dan yang lain memperingatkan bahwa kampanye militer berkepanjangan bisa menggerus persediaan senjata AS terutama yang mendukung Israel dan Ukraina.

Kekhawatiran serupa datang dari para Demokrat di Capitol Hill. Sejak konflik pecah, mereka terus menyuarakan isu jumlah amunisi yang digunakan dan implikasinya bagi pertahanan AS di Timur Tengah dan sekitarnya.

“Iran memang punya kemampuan memproduksi banyak drone Shahed, rudal balistik, jarak menengah, jarak dekat. Persediaan mereka sangat besar,” kata Senator Demokrat Arizona, Mark Kelly, bulan lalu.

“Jadi pada titik tertentu… ini menjadi masalah matematika. Bagaimana kita bisa memasok kembali amunisi pertahanan udara? Dan dari mana amunisi itu akan berasal?”

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar