Ekonom Dipastikan Indonesia Belum Resesi Meski Rupiah Tertekan, Fundamental Dinilai Masih Kuat

- Senin, 08 Juni 2026 | 14:00 WIB
Ekonom Dipastikan Indonesia Belum Resesi Meski Rupiah Tertekan, Fundamental Dinilai Masih Kuat

Ekonomi Indonesia tengah menghadapi tekanan yang cukup berat, meskipun para pengamat menilai kondisi fundamentalnya belum sampai pada ambang resesi. Sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan anomali, seperti inflasi yang terkendali di satu sisi, namun di sisi lain nilai tukar rupiah terus tertekan dan harga energi global memicu gejolak di dalam negeri. Kenaikan harga material, suku cadang kendaraan, dan berbagai kebutuhan pokok menjadi sinyal bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah luar biasa, karena jika tidak, tekanan diperkirakan akan semakin membesar.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sutardjo Tui, menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap resesi masih bersifat berlebihan. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup solid, didukung oleh kinerja ekspor yang baik dan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.

“Faktanya kita memiliki kinerja ekspor baik dan neraca perdagangan yang surplus. Jadi secara fundamental ekonomi kita tidak terganggu,” ujar Sutardjo, Minggu, 7 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa kondisi yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dan arus modal keluar (capital outflow). Ketika investor melepas saham dan mengalihkan dananya ke dolar untuk dibawa ke luar negeri, permintaan terhadap dolar meningkat dan rupiah pun tertekan. Pelemahan rupiah, lanjutnya, tidak selalu mencerminkan buruknya kondisi ekonomi riil karena aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih positif.

“Barang yang kita ekspor masih kuat, surplus perdagangan juga masih ada. Jadi persoalannya bukan karena ekonomi riil kita runtuh, tetapi lebih kepada pergerakan modal di pasar keuangan. Karena itu saya melihat sentimen pasar berperan cukup besar dalam kondisi saat ini,” tuturnya.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Sutardjo menekankan pentingnya penguatan penggunaan rupiah dalam transaksi domestik serta pengelolaan devisa hasil ekspor. Ia juga menilai cadangan devisa Indonesia masih dalam kondisi normal dan mampu membiayai kebutuhan impor selama sekitar empat bulan, yang menunjukkan bahwa bantalan ekonomi masih kuat. Bank Indonesia (BI), menurutnya, masih memiliki ruang untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah.

“Karena itu saya melihat resesi tidak mungkin terjadi dalam kondisi saat ini. Fundamental ekonomi kita masih kuat, inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi tetap positif, dan cadangan devisa juga masih memadai,” ucapnya.

Sutardjo memprediksi bahwa tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama. Ia memperkirakan puncak pelemahan akan terjadi pada Juni dan Juli 2026, dan setelah itu rupiah mulai pulih dan menguat kembali.

Sementara itu, di tengah tekanan nilai tukar yang terus berlanjut, keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional semakin meningkat. Meskipun pemerintah menegaskan bahwa Indonesia belum berada dalam ancaman resesi dan indikator makroekonomi masih tumbuh positif, kenyataan yang dirasakan di lapangan justru berbeda. Harga kebutuhan pokok masih dianggap tinggi, daya beli belum pulih, lapangan pekerjaan berkualitas sulit diperoleh, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor terus menjadi perhatian publik.

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Abdul Muttalib Hamid, menilai kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini lebih tepat disebut sebagai kombinasi antara perlambatan pertumbuhan ekonomi, tekanan terhadap nilai tukar, dan melemahnya sentimen pasar, bukan resesi yang sesungguhnya. Dalam ilmu ekonomi, resesi memiliki definisi yang spesifik, yaitu kontraksi produk domestik bruto (PDB) riil selama dua kuartal berturut-turut yang disertai pelemahan aktivitas ekonomi secara luas.

“Secara akademik, resesi umumnya didefinisikan sebagai kontraksi produk domestik bruto (PDB) riil selama dua kuartal berturut-turut yang disertai pelemahan aktivitas ekonomi secara luas. Karena itu pelemahan rupiah yang terjadi saat ini harus dipahami sebagai sinyal tekanan ekonomi yang memerlukan kewaspadaan, tetapi belum cukup untuk dijadikan bukti bahwa Indonesia telah memasuki fase resesi,” ujarnya.

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap merupakan alarm penting yang tidak boleh diabaikan. Pada periode April hingga Mei 2026, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia. Status tersebut tidak otomatis berarti Indonesia memiliki ekonomi terburuk di kawasan, namun menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah relatif lebih besar dibandingkan negara lain dalam periode yang sama.

Dalam perspektif ekonomi politik, pelemahan rupiah merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor global dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar Amerika Serikat akibat tingginya suku bunga acuan Federal Reserve menjadi faktor dominan. Meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia juga mendorong investor memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven assets). Arus perpindahan modal ini menyebabkan banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan terhadap mata uangnya.

Namun, faktor eksternal bukan satu-satunya penjelasan. Pasar juga terus memantau fundamental ekonomi domestik, seperti perkembangan cadangan devisa, dinamika utang luar negeri, prospek pertumbuhan ekonomi, kondisi fiskal, tingkat inflasi, produktivitas industri, hingga daya saing ekonomi. Ketika indikator-indikator tersebut dipersepsikan kurang kuat atau menimbulkan ketidakpastian, investor cenderung meningkatkan persepsi risiko terhadap suatu negara, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap mata uang dan pasar keuangan.

“Pelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata dipicu faktor global. Pasar juga sedang menilai kualitas fundamental ekonomi domestik, arah kebijakan fiskal, dan tingkat kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi nasional,” katanya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar