Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) tengah menyelidiki insiden keamanan yang melibatkan helikopter militer yang membawa Presiden AS Donald Trump. Helikopter kepresidenan, yang dikenal sebagai Marine One, terbang terlalu dekat dengan sebuah pesawat komersial, memicu kekhawatiran akan keselamatan penerbangan.
Dalam pernyataannya pada Selasa (4/8), FAA menegaskan bahwa insiden tersebut tampaknya bukan situasi berbahaya di mana pesawat nyaris bertabrakan. "FAA sedang menyelidiki insiden keselamatan yang melibatkan Marine One, namun kejadian itu tampaknya bukan situasi berbahaya di mana pesawat nyaris bertabrakan, dan pesawat-pesawat itu tampaknya tidak bergerak saling mendekat," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Menurut dua sumber yang memahami insiden ini, Marine One yang membawa Trump lepas landas dari Gedung Putih pada Selasa sore. Namun, operator lalu lintas udara (ATC) tidak menghentikan penerbangan komersial di Bandara Nasional Ronald Reagan Washington yang terletak dekat lokasi. Padahal, langkah tersebut diwajibkan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan tahun lalu, menyusul insiden tabrakan fatal antara pesawat penumpang dan helikopter militer pada Januari 2025.
Media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), menjadi yang pertama melaporkan insiden ini. Laporan menyebutkan bahwa helikopter Trump lepas landas dari Ellipse di dekat Gedung Putih sekitar pukul 14.33 waktu setempat, menuju ke Pangkalan Gabungan Andrews untuk perjalanan selanjutnya ke Los Angeles.
Seorang sumber kepada Reuters mengungkapkan bahwa sebuah pesawat komersial Envoy Air 3742, yang menggunakan jet regional E170 tujuan Pensacola, Florida, berangkat pada pukul 14.34 waktu setempat dan terlibat dalam insiden yang tampaknya merupakan pelanggaran jarak aman dengan Marine One. Envoy Air merupakan anak perusahaan maskapai American Airlines.
Artikel Terkait
Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Sanksi AS ke Iran dan Gangguan Pasokan
Harga Minyak Mentah Melonjak Akibat Ancaman Ekonomi AS terhadap Iran
Trump Klaim Korut Punya 57 Nuklir, Korsel Bantah
Iran Kecam Sanksi Ekonomi AS, Sebut sebagai Terorisme Ekonomi dan Pengalihan Isu