Sebuah makalah ilmiah yang mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai penulis pertama menjadi perbincangan hangat. Publikasi setebal 69 halaman itu mengangkat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dikaitkan dengan pengajuan Nobel Perdamaian 2026.
Judul paper tersebut adalah Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth. Selain Prabowo, ada sembilan penulis lain yang namanya tertera dalam dokumen itu.
Dokumen tersebut diunggah ke SSRN pada 31 Maret 2026. Namun, perhatian publik justru meledak setelah akun X @TxtdariiUGM mengunggahnya pada 4 Agustus 2026. Dalam cuitannya, akun itu menulis, "Nemu paper salah satu authornya @prabowo, papernya sebagai ajuan Program MBG untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian 2026."
Kontroversi Penggunaan AI
Bukan hanya nama Prabowo yang menjadi sorotan. Netizen juga mengkritisi kualitas penyusunan paper tersebut. Berdasarkan analisis digital, isi dokumen terdeteksi menggunakan kecerdasan buatan (AI) dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Bahkan, ditemukan sisa draf berupa teks perintah (prompt AI) yang lupa dihapus oleh pembuatnya di dalam naskah.
Akun @TxtdariiUGM pun menyindir hal ini dalam cuitan lainnya, "Kesel banget di dalam paper ada desain AI-nya, mana jelek lagi." Sindiran tersebut turut memicu diskusi luas di media sosial mengenai etika penggunaan AI dalam karya ilmiah, terutama yang menyangkut nama besar dan pengajuan penghargaan internasional.
Artikel Terkait
Pakar: Amandemen UUD 2002 Bikin Presiden Absolut, Bisa Lakukan Tiga Hal Ini
Curhat Menkeu hingga Instruksi Prabowo soal BBM, Berita Populer Hari Ini
Hamid Basyaib: Pidato Prabowo Kurang Substansi, Banyak Guyonan
Isu Pergantian Kapolri Dinilai Bentuk Rongrongan Terhadap Pemerintahan Prabowo