Hamid Basyaib: Pidato Prabowo Kurang Substansi, Banyak Guyonan

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Hamid Basyaib: Pidato Prabowo Kurang Substansi, Banyak Guyonan

Peneliti dan intelektual publik, Hamid Basyaib, menyoroti pidato-pidato Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya kerap melenceng dari substansi. Menurut Hamid, di tengah situasi yang tengah dihadapi masyarakat, mimbar kepresidenan seharusnya digunakan dengan lebih elegan dan serius.

"Kita berharap, itu dikurangi kalau tidak bisa dihentikan sama sekali, guyonan-guyonan yang seperti saya bilang tadi cenderung meremehkan keseriusan situasi. Masalahnya, itu bukan soal sopan atau tidak, pantas atau tidak, tapi apa sebetulnya pesan yang mau disampaikan," kata Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026).

Hamid mencontohkan kritik Presiden terhadap konsep trickle down effect. Menurut Hamid, Presiden mengkritik teori itu tanpa menawarkan alternatif yang bisa dijadikan pegangan publik. Padahal, konsep tersebut pernah dijalankan oleh Soeharto, yang merupakan mantan mertua Prabowo.

Ia menilai, seharusnya Presiden bisa menjelaskan mengapa konsep itu tidak berhasil di Indonesia. Bisa jadi, kata Hamid, karena penerapannya tidak konsisten atau banyak distorsi di tengah jalan, seperti yang tidak diinginkan oleh pencetus teori itu, Rostow. Sebagai pemimpin negara, Presiden tidak seharusnya terburu-buru menyalahkan teori tanpa mengupas pelaksanaannya di lapangan.

"Itu yang tidak dilakukan oleh Presiden Prabowo. Nah, pertanyaannya kemudian apa dampaknya terhadap kewibawaan seorang Presiden dan lebih penting lagi terhadap kualitas diskursus publik. Dengan pidato-pidato semacam itu apa yang bisa dibahas oleh para mahasiswa, oleh orang awam, oleh para akademisi, hampir-hampir tidak ada. Kecuali, aspek-aspek guyonan itu yang jika bukan Presiden yang mengemukakannya pasti dengan mudah kita bisa bilang bahwa guyonannya pun garing," ujar Hamid.

Hamid menekankan bahwa Presiden seharusnya berperan secara presidensial sesuai kewibawaan kenegaraan sebagai pejabat tertinggi. Namun, sikap sebaliknya justru terlihat dari cara Presiden menanggapi hal-hal serius.

Ia menyarankan agar Presiden Prabowo mengubah strategi komunikasi dan tampil sebagai tokoh yang menyenangkan, ramah, dan tidak terkesan garang seperti di masa lalu. Namun, hal itu perlu dilakukan tanpa tergelincir pada hal-hal yang dianggapnya lucu.

"Saya kira sudah cukup lah satu setengah tahun ini dan selanjutnya kita berharap lebih serius berpidato dan kita berharap betul bahwa forum podium Presiden Republik Indonesia itu bisa beliau manfaatkan dengan bijaksana dan dengan cemerlang. Kita tahu bahwa pernyataan seorang Presiden itu sama sekali bukan sekadar pernyataan. Pernyataan seorang Presiden itu bisa punya makna yang jauh dan dalam sekali bagi rakyat untuk keperluan yang baik maupun untuk yang buruk," kata Hamid.

Dalam situasi yang sulit seperti sekarang, Hamid berpendapat penting bagi Presiden untuk mengakui apa yang terjadi. Sambil, lanjutnya, menyampaikan bahwa tantangan ini bukan yang pertama atau kedua kalinya dihadapi bangsa Indonesia.

Ia berharap Presiden Prabowo bisa memperhatikan bahwa dengan segala kesulitan, bangsa Indonesia tetap kuat, solid, bersatu, satu tujuan, dan satu tekad. Hal itu dinilai lebih penting untuk disampaikan dalam pidato.

"Nah, mudah-mudahan Pak Prabowo mendengar pesan ini dan tidak ada hal yang selain untuk kebaikan kita sampaikan ini, dan mudah-mudahan Presiden Prabowo Subianto yang terhormat mendengar dan memperhatikan pesan-pesan semacam ini yang tentunya bukan hanya disampaikan oleh diri saya seorang. Ada banyak yang mengemukakan dengan cara masing-masing dan mulai banyak keluhan terlalu sering dan terlalu bisa dibilang dangkalnya Presiden kita melontarkan goyonan-goyonan semacam itu," ujar Hamid.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags