Di Pendopo Garut yang ramai, Ahad lalu, suasana berbeda terasa. Rumah Amal Salman baru saja menggelar acara bertajuk "Inspirational Talk Green Ramadhan". Intinya sederhana: mengajak anak muda Garut untuk membuka mata terhadap isu lingkungan. Bukan sekadar teori, tapi bagaimana aksi kecil mereka bisa menyelamatkan masa depan bumi dari kerusakan yang kian nyata.
Zidan Rafsanjani Zein, panitia penyelenggara, menjelaskan semangat di balik acara itu. Menurutnya, momen Ramadhan ini jadi waktu yang tepat untuk 'reset' pola pikir.
"Kegiatan ini untuk me-reset kembali anak muda. Kebiasaan kita yang mungkin sebelum Ramadhan masih cuek terhadap lingkungan, sekarang harus semakin peduli," ujar Zidan.
Ini bukan kegiatan satu-satunya. Sejak lama, Rumah Amal Salman punya agenda rutin untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan pemuda Garut. Caranya? Dengan hal-hal yang sangat aplikatif. Misalnya, bagaimana mengelola sampah dengan benar dan berusaha mengurangi produksinya sejak dari sumber.
Zidan menekankan, sampah yang tak dikelola akan berujung pada dampak buruk. Karena itulah, organisasinya juga menjalankan Program Bank Sampah. Program ini bahkan membuka kesempatan bagi warga untuk bersedekah sampah. Nantinya, sampah-sampah itu diolah agar punya nilai manfaat, tidak sekadar menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Gaya hidup minimalis juga digaungkan. Acara itu mendorong anak muda untuk hidup lebih sederhana. Misalnya, dengan tidak boros membeli pakaian yang akhirnya hanya jadi limbah. Menggunakan kembali barang lama adalah salah satu solusi konkret.
"Hidup minimalis, seperti pakai pakaian lama yang masih layak, itu bisa mengurangi risiko sampah," katanya lagi.
Untuk memberi inspirasi, acara menghadirkan dua pembicara kunci. Ada Guru Besar Teknologi Lingkungan ITB, Edwan Kardena, dan motivator muda Sherly Annavita. Mereka hadir untuk menyulut semangat dan memberikan perspektif segar.
Edwan punya ajakan yang langsung menohok. Ia mendorong anak muda untuk segera bertindak, tidak perlu menunggu.
"Bikin kelompok kecil dulu untuk jadi penggerak tangani masalah sampah di lingkungan masing-masing. Itu nanti bikin aksi nyata. Secara teknis bisa saya bantu. Itu aja dulu dibuat," tegas Edwan.
Di sisi lain, Sherly melihat ada secercah harapan. Ia menilai kesadaran anak muda sekarang terhadap lingkungan sebenarnya sudah cukup bagus. Kerusakan alam yang kian terlihat jelas rupanya menjadi pengingat yang ampuh.
Namun begitu, kesadaran itu harus terus dipupuk. Caranya? Mulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan sehari-hari. Sherly memberikan contoh-contoh praktis.
"Kita mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Misalnya, mengurangi sampah plastik, bawa tumbler sendiri, atau di rumah memilah-milah sampah untuk dimanfaatkan kembali," pungkas Sherly.
Acara itu pun berakhir, tapi pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Tantangannya kini ada di tangan anak-anak muda Garut untuk mewujudkan omongan jadi aksi nyata di tengah masyarakat.
Artikel Terkait
Pemerintah Resmi Bangun Hunian Layak bagi Warga Pinggir Rel di Pasar Senen
Mensos Gus Ipul Peringatkan Maraknya Hoaks Bansos, Tegaskan Bantuan Tidak Dikurangi
Sarana Jaya Gandeng Dishub Berantas Parkir Liar di Sekitar Depo MRT Lebak Bulus
Menantu Trump Ikut Misi Diplomasi ke Pakistan, AS Kirim Utusan Khusus untuk Jalin Komunikasi dengan Iran