Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) punya usulan baru untuk menangani krisis yang melilit Kuba. Intinya, mereka mengajukan sebuah "rencana aksi" senilai US$94,1 juta, atau sekitar Rp1,50 triliun. Rencana ini, diungkapkan seorang pejabat pada Rabu (25/3), salah satunya mencakup sistem pelacakan penggunaan bahan bakar. Hal ini muncul di tengah pembicaraan dengan Amerika Serikat, agar sumber energi bisa dialirkan untuk bantuan kemanusiaan.
Francisco Pichon, koordinator PBB di Kuba, menjelaskan bahwa dana besar itu bertujuan menjaga layanan penting tetap hidup, terutama untuk kelompok masyarakat paling rentan di negara tersebut. Situasinya memang genting.
"Kalau kondisi sekarang terus berlanjut dan cadangan bahan bakar negara benar-benar habis, kami khawatir akan terjadi kemunduran yang cepat," kata Pichon kepada para jurnalis. Kekhawatirannya nyata: potensi hilangnya nyawa.
Dia menegaskan, "Kelangsungan dan pelaksanaan rencana aksi ini jelas bergantung pada solusi terkait bahan bakar." Tanpa itu, semuanya bisa mandek.
Mengapa Kuba Bisa Sampai Seperti Ini?
Akar masalahnya berlapis. Tapi tekanan dari AS jelas jadi pemicu besar. Pada akhir Januari lalu, Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang berani jual atau sediakan minyak ke Kuba. Ancaman itu dibarengi desakan untuk mengubah model politik di pulau tersebut. Blokade efektif ini, mau tak mau, memperdalam krisis energi dan ekonomi Kuba.
Dampaknya menjalar ke mana-mana. Dari sektor listrik yang amburadul, pariwisata yang lesu, maskapai penerbangan yang tersendat, sampai hal dasar seperti sanitasi. Laporan PBB sebelumnya bahkan menyebutkan, ribuan operasi medis terpaksa dibatalkan karena listrik dan bahan bakar langka. Kualitas udara pun memburuk, lantaran banyak warga akhirnya membakar kayu untuk sekadar memasak.
Nah, dalam situasi seperti inilah PBB kini berusaha berdiskusi dengan Washington. Harapannya, bahan bakar bisa diberi jalur khusus untuk tujuan kemanusiaan.
Pichon menyebutkan, rencana yang diusulkan mencakup "model pelacakan bahan bakar". "Ini untuk mencoba mencapai kesepakatan, sebuah jalur untuk mendapatkan akses terhadap bahan bakar," ujarnya.
Pembicaraan dengan AS: Masih di Tahap Awal
Lalu, bagaimana respons Kuba? Presiden Miguel Díaz-Canel pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa Washington dan Havana memang sedang berbicara. Meski begitu, menurutnya, pembicaraan itu masih berada pada tahap yang sangat awal.
Yang menarik, Díaz-Canel juga menyebutkan bahwa mantan pemimpin Kuba, Raúl Castro, terlibat dalam proses ini. Hal ini dia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan pemimpin kiri Spanyol, Pablo Iglesias, yang kemudian dipublikasikan media pemerintah.
"Pertama, kita harus membangun saluran dialog. Kemudian kita harus membangun agenda kepentingan bersama bagi para pihak, dan para pihak harus menunjukkan niat untuk maju serta benar-benar berkomitmen pada program yang didasarkan pada pembahasan agenda tersebut," papar Díaz-Canel kepada Iglesias.
Artikel Terkait
Kosovo Tumbangkan Slovakia 4-3 dalam Drama Semifinal Kualifikasi Piala Dunia
Kosovo Kalahkan Slovakia 4-3, Siap Hadapi Turki di Final Kualifikasi Piala Dunia
Kementerian Kebudayaan Terapkan WFH dan Efisiensi Energi Respons Krisis Global
Pengguna QRIS di Kaltim Tembus 859 Ribu, Transaksi Digital dan Uang Tunai Tumbuh Beriringan