PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tengah mempersiapkan Proyek Tembaga Tujuh Bukit sebagai pilar baru pertumbuhan perusahaan, yang saat ini masih berada dalam tahap praproduksi. Proyek yang disebut-sebut sebagai salah satu tambang tembaga terbesar di dunia itu diharapkan menjadi motor penggerak kinerja perseroan di masa mendatang.
Memasuki kuartal pertama tahun 2026, proyek tersebut memasuki tahap finalisasi studi kelayakan atau feasibility study menuju kesiapan eksekusi. Proses ini mencakup pengujian metalurgi dan optimasi desain tambang yang bertujuan meningkatkan perolehan hasil, efisiensi biaya, serta memperkuat nilai ekonomi proyek secara keseluruhan.
Segmen tembaga tetap menjadi pilar penting bagi bisnis MDKA, di samping emas dan nikel. Untuk segmen emas, seluruh operasional dijalankan oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), sementara segmen nikel dikelola melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
“Kami membangun platform pertumbuhan terintegrasi, dengan emas sebagai penghasil arus kas dan nikel sebagai motor masa depan. Pencapaian di Pani dan kinerja nikel menegaskan peran strategis perseroan dalam rantai pasok energi global,” ujar Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk, Albert Saputro, dalam keterangan resmi yang dikutip pada Rabu (5/6/2026).
Sejak 2018, MDKA telah menginvestasikan sekitar 200 juta dolar AS untuk Proyek Tembaga Tujuh Bukit. Dana tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk studi kelayakan, operasi pengeboran sepanjang 1.890 meter, serta studi pra-kelayakan atau pre-feasibility study yang rampung pada Mei 2026.
Pada puncak produksinya, proyek ini diperkirakan mampu memproses 24 juta ton bijih per tahun. Dengan kapasitas tersebut, MDKA dapat menghasilkan lebih dari 110 ribu ton tembaga dan 350 ribu ons emas setiap tahunnya selama lebih dari tiga dekade.
Saat ini, total sumber daya mineral di proyek Tembaga Tujuh Bukit mencapai 1,7 miliar ton. Jumlah tersebut setara dengan 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ons emas yang terkandung di dalamnya.
Artikel Terkait
IHSG Mulai Pulih Usai Tekanan Terburuk dalam 18 Tahun, Analis Sebut Pasar Masih Menanti Kepastian Kebijakan
Ketegangan Selat Hormuz Kembali Memanas, Pasar Tunggu Data Inflasi AS dan Keputusan MSCI untuk Indonesia
IHSG Diprediksi Menguat, Target Uji Level 6.328–6.545
IHSG Diproyeksikan Menguat Pekan Depan, Didukung Sentimen Global dan MSCI