Obesitas Akibat Gaya Hidup Modern, Operasi Bariatrik Jadi Opsi Terapi Medis

- Rabu, 06 Mei 2026 | 01:30 WIB
Obesitas Akibat Gaya Hidup Modern, Operasi Bariatrik Jadi Opsi Terapi Medis

Gaya hidup modern yang serba instan dan minim gerak kini menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya angka obesitas di Indonesia. Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses yang kaya gula dan lemak, ditambah dengan kurangnya aktivitas fisik, tidur yang tidak berkualitas, serta stres kronis, dinilai berkontribusi besar terhadap kenaikan berat badan yang sulit dikendalikan.

Pola hidup tersebut, jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat memicu adaptasi metabolik. Kondisi ini membuat metabolisme tubuh melambat dan tubuh menganggap berat badan yang baru sebagai kondisi normal. Akibatnya, proses penurunan berat badan menjadi semakin sulit dan memicu siklus kenaikan berat badan yang berulang.

Dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang dilakukan tidak lagi sekadar mengatur pola makan. Penderita obesitas dianjurkan untuk melakukan reset pola makan melalui program pengelolaan berat badan atau weight management yang terstruktur. Pada beberapa kasus, tindakan medis seperti operasi bariatrik juga menjadi opsi ketika risiko mempertahankan obesitas dinilai lebih besar dibandingkan risiko operasi itu sendiri.

“Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik. Prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori, serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya,” ujar dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS.

Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa kriteria indeks massa tubuh (BMI) minimum yang harus dipenuhi pasien agar dapat menjalani prosedur ini. Kriteria tersebut meliputi pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid dengan BMI di atas 30; serta pasien tanpa komorbid dengan BMI di atas 35.

Meski demikian, tindakan ini bukanlah “jalan pintas” untuk menurunkan berat badan. Pasien tetap harus beradaptasi dengan perubahan pola makan karena ukuran lambung yang mengecil. Pendampingan nutrisi dan pemenuhan kebutuhan suplemen menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

“Sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien berubah secara signifikan. Masa setelah operasi sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya. Fokus kami tidak hanya memastikan kecukupan cairan dan protein, tetapi juga mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan,” ujar Veronica, S.Gz.

Ia menambahkan bahwa edukasi komprehensif terkait penyesuaian pola makan juga diberikan kepada pasien. Sebab, meskipun ukuran lambung lebih kecil, tantangan, godaan, dan keinginan untuk makan tetap ada. “Oleh karena itu, pasien bariatrik memerlukan pendampingan berkelanjutan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang,” katanya.

Di sisi lain, tantangan tidak hanya datang dari aspek fisik. Data dari PubMed menyebutkan bahwa sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi akibat perubahan hormon dan metabolik. Oleh karena itu, skrining dan pendampingan psikologis menjadi bagian penting dalam proses penanganan.

“Bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustasi akan dihadapi pasien. Karena itu, pendampingan psikolog dibutuhkan agar pasien dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan dan dapat menyesuaikan pola hidup serta mindset yang baru dengan lebih efektif,” ujar Tara de Thouars.

Saat ini, pendekatan penanganan obesitas semakin komprehensif, mencakup aspek nutrisi, medis, hingga psikologis. Upaya ini dilakukan untuk membantu pasien tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan di tengah tantangan gaya hidup modern.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar