Pemerintah Siapkan CNG sebagai Alternatif Pengganti LPG 3 Kg untuk Tekan Impor

- Kamis, 07 Mei 2026 | 04:50 WIB
Pemerintah Siapkan CNG sebagai Alternatif Pengganti LPG 3 Kg untuk Tekan Impor

Pemerintah tengah menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram yang dikenal luas sebagai gas melon. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya strategis untuk menekan angka impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia sejatinya memiliki cadangan CNG yang melimpah. Namun, ia mengakui bahwa keterbatasan teknologi untuk mengonversi cadangan tersebut masih menjadi kendala utama.

"Ketika gejolak geopolitik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada, tapi kan kita tergantung pada global. Maka kami merumuskan alternatif lain," ujar Bahlil dalam pernyataannya, Rabu (6/5/2026). Ia menambahkan bahwa temuan baru gas di Kalimantan Timur akan dialokasikan sebagian besar untuk kebutuhan dalam negeri guna mendukung program CNG.

Bahlil memastikan bahwa harga jual CNG nantinya akan lebih murah, atau setidaknya sama dengan harga LPG 3 kg yang berlaku saat ini. Menurutnya, harga tersebut akan dijaga melalui mekanisme subsidi sehingga konsumen akhir tidak merasakan perbedaan biaya meskipun terdapat perbedaan teknologi produksi antara LPG dan CNG.

"Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat," tuturnya.

Saat ini, uji coba penggunaan tabung CNG berukuran 3 kg untuk masyarakat masih terus dilakukan. Selama ini, produk CNG lebih banyak dijual untuk kebutuhan industri dengan ukuran 12 kg dan 20 kg. Bahlil menjelaskan bahwa tabung berukuran besar tersebut dinilai kurang praktis jika digunakan oleh rumah tangga.

"Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilo, yang 20 kilo itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilo. Nah, ini yang kita lagi godok," ucapnya.

Sebagai gambaran, konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton yang mampu diproduksi di dalam negeri, sementara sisanya harus dipenuhi melalui impor. Bahan baku CNG sendiri dapat diperoleh dari industri dalam negeri, yaitu dari gas cair C1 dan C2 yang kemudian dipadatkan hingga mencapai tekanan tertentu. Gas cair C1-C2 merupakan gas alam yang didominasi oleh komponen metana (C1) dan etana (C2) yang telah dicairkan untuk mempermudah penyimpanan dan transportasi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar