Jakarta - Di tengah sorotan yang tak kunjung reda, Jusuf Kalla mengambil langkah konkret. Mantan Wapres itu mengundang sejumlah tokoh kunci perdamaian dari Poso dan Ambon untuk bertemu, Selasa lalu. Pertemuan itu sendiri berlangsung tertutup, namun JK kemudian berbicara kepada awak media usai acara.
Intinya, para tokoh yang dulu berjasa meredakan konflik itu sepakat. Mereka akan melawan narasi-narasi fitnah yang belakangan menyeret nama JK. Fitnah itu muncul menyusul ceramah kontroversialnya di UGM, yang potongan videonya viral dan dituding menistakan agama.
JK sendiri bersikukuh. Apa yang disampaikannya di kampus itu adalah refleksi dari kondisi riil saat konflik komunal terjadi bertahun-tahun silam. Bukan sebuah penghinaan.
"Mereka mengakui bahwa lebih hebat lagi daripada keadaan, lebih susah lagi. Jadi apa yang saya sampaikan ya keadaan pada waktu itu," ujarnya.
Lalu dia menambahkan, "Dan semua sepakat bahwa ini harus dilawan semua yang mau macam-macam tuh."
Di sisi lain, JK berharap para tokoh agama yang hadir bisa turun tangan. Peran mereka dinilai krusial untuk menyosialisasikan maksud sebenarnya dari ceramahnya ke masyarakat luas. Tujuannya jelas: mencegah perpecahan.
"Teman para tokoh agama itu diharapkan untuk menyosialisasikan. Tentu lewat Anda semua, media semua. Untuk apa itu, agar masyarakat memahami, jangan mau dipecah belah oleh orang-orang yang memfitnah itu," ungkap JK tegas.
Tak cuma berhenti di situ. Eks Ketum Golkar ini juga mendesak aparat untuk bertindak. Dia meminta polisi dan ahli IT melacak asal-usul potongan video ceramahnya yang dianggap memicu masalah. Siapa yang memotong dan menyebarkan klip berdurasi 45-50 detik itu?
"Kita minta, polisi dan minta juga ahli-ahli IT ingin meneliti ini dari mana asalnya ini. Kan semua lewat IT kan. Siapa yang mula memasukkan dua kalimat itu? Yang 45 detik, 50 detik itu. Mengedarkan, siapa yang mengedarkan," kata dia.
Pertemuan ini sendiri dihadiri oleh wajah-wajah familiar yang punya andil besar dalam sejarah perdamaian di Indonesia. Dari Poso, hadir sejumlah pendeta seperti Pdt. Rudolf Metusala, Pdt. Jetroson Rense, Pdt. Dajaramo Tasiabe, dan Pdt. Rinaldi Damanik. Mereka adalah bagian dari delegasi Perjanjian Malino I.
Sementara dari tokoh Muslim Poso, tampak Ustaz Sugianto Kaimuddin yang juga delegasi Malino I. Dia hadir bersama Ustaz Muh. Amin, Ustaz Samsul Lawenga, dan Ustaz Mualim Fauzil.
Dari Maluku, kehadiran mereka tak kalah penting. Ada Pdt. Prof. John Ruhulessin dari Gereja Protestan Maluku, lalu Prof. Hasbullah Toisutta yang merupakan tokoh Muslim dan mantan Rektor UIN Ambon, serta Ustaz Hadi Basalamah. Mereka adalah pelaku sejarah Perundingan Malino II.
Artikel Terkait
Puan Maharani Ingatkan Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Prabowo Bahas Pertahanan dan Kemitraan dengan AS dalam Pertemuan Tertutup
Ekspor Teknologi Hijau China Melonjak di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Polisi Korea Selatan Ajukan Surat Penangkapan untuk Bang Si-Hyuk, Pendiri Hybe, Terkait Dugaan Penipuan Investor