PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax series yang berlaku pada 10 Juni 2026 telah mengikuti mekanisme pasar sesuai formula yang ditetapkan pemerintah. Kepastian ini disampaikan di tengah sorotan publik atas lonjakan harga yang mencapai ribuan rupiah per liternya.
Berdasarkan data yang dihimpun, harga Pertamax naik sebesar Rp3.950 menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green mengalami kenaikan Rp4.100 menjadi Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp12.900 per liter. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga tersebut merupakan konsekuensi dari fluktuasi parameter pasar. Ia menegaskan bahwa Pertamax series merupakan produk nonsubsidi yang harga jualnya sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi.
“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi,” ujar Roberth di Jakarta.
Di sisi lain, BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak mengalami perubahan harga. Pemerintah masih menetapkan harga kedua jenis bahan bakar tersebut tanpa penyesuaian.
Roberth menambahkan bahwa secara normal, evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap bulan. Namun, implementasi di lapangan tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah. “Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” katanya.
Pemerintah, menurut Roberth, senantiasa berupaya menjaga harga Pertamax series tetap stabil di tengah dinamika global yang mendorong kenaikan harga minyak dunia akibat kondisi geopolitik. Kenaikan harga pada Juni ini, lanjutnya, telah mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri.
Menariknya, penyesuaian harga yang dilakukan saat ini baru mencakup 50 persen dari selisih harga pasar. Jika dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga ASEAN, harga Pertamax di Indonesia dinilai masih lebih kompetitif. “Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat,” kata Roberth.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal bahwa harga BBM nonsubsidi berpotensi turun kembali. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia sebagai bahan baku utama.
“Apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun,” kata Anggia saat konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).
Menurut Anggia, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan keberlangsungan pasokan BBM di dalam negeri. Ketika harga minyak global meningkat, badan usaha penyedia BBM perlu melakukan penyesuaian agar distribusi dan ketersediaan bahan bakar tidak terganggu. “Kalau kita berbicara contoh sederhana nih, bahan bakunya di luar sudah naik, yang dagang enggak bisa menaikkan harga, mau tidak mau kan itu ketersediaan bahan yang dijualnya jadi tidak ada. Jadi ini yang mempertimbangkan,” ujarnya.
Sebagai gambaran, pada perdagangan Jumat (19/6/2026), harga minyak mentah Brent turun 54 sen atau 0,68 persen menjadi 78,31 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 46 sen atau 0,6 persen menjadi 76,14 dolar AS per barel. Penurunan ini menjadi indikator awal yang dapat memicu evaluasi harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Artikel Terkait
Suporter Jepang Dipuji Bersihkan Stadion, Tapi Dikritik Karena Minim Bantu Pekerjaan Rumah Tangga
Menkeu: Mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Prima, Inflasi Terkendali di 3,08 Persen
Masyarakat Adat Papua Panen Perdana di Lahan Hak Ulayat, Kini Bisa Nikmati Beras Lokal Lebih Murah
Puan Maharani Dorong Pemulihan Pascagempa Sulteng Tak Hanya Fokus Fisik, tapi Juga Keberlanjutan Hidup Warga