Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS

- Senin, 27 April 2026 | 02:50 WIB
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS

Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Araghchi bakal terbang ke Moskow pada hari Senin. Agenda utamanya? Membahas soal negosiasi, gencatan senjata, dan perkembangan di sekitarnya begitu kata Jalali. Ia menyampaikan ini ke kantor berita ISNA, sambil menekankan betapa eratnya hubungan Teheran dengan Kremlin. Sejak perang AS-Israel di Iran pecah yang oleh Jalali dijuluki “Perang Ramadan” Presiden Iran, Pezeshkian, sudah tiga kali menelepon Vladimir Putin. Isinya ya soal perang itu. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia juga sudah mengonfirmasi kunjungan Araghchi ke Moskow, lewat pernyataan ke kantor berita RIA Novosti. Sebelumnya, media pemerintah Iran sempat melaporkan ada pesan yang dikirim lewat Pakistan ke AS. Isinya? Soal garis merah yang tidak akan dilanggar Teheran. “Pesan-pesan ini menyangkut beberapa garis merah Republik Islam Iran, termasuk masalah nuklir dan Selat Hormuz,” kata Kantor Berita Fars, yang punya hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam. “Sumber-sumber yang terinformasi menekankan bahwa Bapak Araghchi bertindak sepenuhnya dalam kerangka garis merah yang ditentukan dan tugas diplomatik Kementerian Luar Negeri.” Ditambahkan pula, pesan-pesan itu “tidak terkait dengan negosiasi” dan lebih merupakan “inisiatif Iran untuk mengklarifikasi situasi regional”. Namun begitu, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa kepulangan Menteri Luar Negeri Iran ke Pakistan “tidak ada hubungannya dengan pembicaraan nuklir”. Araghchi sempat tiba lagi di Islamabad setelah bicara dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan pejabat lain, soal “kerangka kerja yang dapat diterapkan” untuk mengakhiri perang. Tasnim bilang, dia kembali untuk “melanjutkan konsultasi terbarunya”, tapi lagi-lagi ditegaskan: “negosiasi tidak ada hubungannya dengan masalah nuklir”. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengklaim Iran sudah mengaj semacam “tawaran” untuk memenuhi tuntutannya termasuk mengakhiri program nuklir. Pada hari Sabtu, Trump bahkan membatalkan kunjungan utusannya ke Islamabad, tepat setelah Araghchi meninggalkan Pakistan menuju Oman. Sementara itu, Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, sudah menelepon menteri luar negeri Iran. Keduanya “membahas upaya untuk mencapai perdamaian dan meningkatkan keamanan serta stabilitas di kawasan tersebut”, menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar. Mohammed juga “menyatakan perlunya semua pihak untuk terlibat dalam upaya mediasi yang sedang berlangsung, yang akan membuka jalan untuk mengatasi akar penyebab krisis melalui cara damai dan dialog, yang mengarah pada kesepakatan berkelanjutan dan mencegah eskalasi baru”. Lebih lanjut, ia “menekankan perlunya membuka jalur laut, memastikan kebebasan navigasi, dan tidak menggunakannya sebagai alat tawar-menawar atau taktik tekanan”. Dampaknya? Ia ingatkan soal efek negatif terhadap negara-negara di kawasan, pasokan energi dan pangan dunia, serta perdamaian dan keamanan internasional.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar