PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) bersiap menggelar aksi korporasi besar berupa penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue dengan total hingga 219,5 miliar saham baru. Langkah ini diproyeksikan mampu menghimpun dana sekitar Rp27,7 triliun, menjadikannya salah satu rights issue terbesar di pasar modal dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan prospektus yang diterbitkan pada Selasa, 9 Juni 2026, harga pelaksanaan rights issue ditetapkan sebesar Rp126 per saham. Setiap pemegang 100 saham lama berhak memperoleh 47.177 HMETD. Namun, bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya, aksi ini berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan hingga 99,79 persen.
Pemegang saham pengendali FORU, IMR Asia Holding Pte Ltd, yang saat ini menguasai 76,81 persen saham perseroan, dipastikan akan melaksanakan seluruh haknya. Pelaksanaan itu dilakukan melalui mekanisme inbreng atau setoran non-tunai. Dalam skema tersebut, IMR Asia Holding akan menyetorkan 49 persen saham PT Borneo Prima dengan nilai transaksi sekitar Rp21,2 triliun sebagai pengganti setoran dana tunai.
Masuknya PT Borneo Prima menjadi aset utama perseroan menandai transformasi strategis bagi FORU. Perusahaan itu dikenal sebagai produsen batu bara kokas yang beroperasi di Kalimantan Tengah dan fokus pada segmen batu bara metalurgi, yakni jenis batu bara yang digunakan dalam industri baja. Langkah ini mengubah haluan bisnis FORU yang sebelumnya bergerak di bidang komunikasi pemasaran dan media.
Sementara itu, dana yang berasal dari pelaksanaan HMETD oleh pemegang saham publik diperkirakan mencapai sekitar Rp6,4 triliun. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk memberikan pinjaman modal kerja kepada PT Borneo Prima guna mendukung kegiatan operasional dan pengembangan bisnis perusahaan tambang tersebut.
Seiring dengan masuknya kepemilikan di PT Borneo Prima, FORU juga berencana mengubah kegiatan usaha utama perseroan menjadi perusahaan holding. Perubahan ini akan memberikan eksposur yang lebih besar terhadap sektor pertambangan batu bara kokas.
Seluruh rencana rights issue, transaksi inbreng, serta perubahan kegiatan usaha utama perseroan akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 16 Juli 2026.
Artikel Terkait
Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp17.944 Usai BI Naikkan Suku Bunga, Konflik Iran-AS Kembali Memanas
IHSG Melonjak 3,14 Persen, Saham Bank dan Konglomerasi Dorong Rebound
Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan