Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadapi tekanan besar menjelang Piala Dunia 2026 setelah dua masalah krusial mencuat: penolakan masuk seorang wasit ke Amerika Serikat dan gelombang kritik terhadap harga tiket yang dinilai selangit. Dua isu ini langsung membayangi turnamen yang akan digelar di tiga negara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko jauh sebelum pertandingan perdana dimulai.
Piala Dunia edisi ke-23 ini akan menjadi yang pertama dengan format 48 negara peserta, menghasilkan total 104 pertandingan. Namun, pesta sepak bola terbesar di dunia itu sudah dihantam sejumlah polemik sebelum laga pertama bergulir. FIFA harus menghadapi kritik tajam soal harga tiket, isu politik, hingga persoalan akses masuk perangkat pertandingan ke Amerika Serikat.
Salah satu kasus yang mencuri perhatian adalah pemulangan wasit asal Somalia, Omar Artan, pada pekan ini. Pemerintahan Presiden Donald Trump menuding Artan memiliki hubungan dengan “anggota organisasi teror yang dicurigai”. Kasus ini menambah panas situasi menjelang turnamen, terlebih sebelumnya kehadiran tim nasional Iran juga sempat diragukan akibat konflik yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Gianni Infantino menggunakan konferensi pers peluncuran Piala Dunia 2026 pada Rabu lalu untuk meredakan ketegangan. Presiden FIFA itu meminta publik tetap tenang.
“Santai, rileks,” kata Infantino.
Infantino menegaskan bahwa FIFA terus bekerja mencari jalan keluar atas setiap persoalan yang mengganggu persiapan turnamen. Dia tidak ingin polemik tersebut mengeruhkan atmosfer Piala Dunia 2026. Namun, ia juga mengakui bahwa FIFA tidak memiliki kekuasaan penuh atas keputusan pemerintah Amerika Serikat, termasuk dalam kasus penolakan masuk terhadap Omar Artan.
“Kami bukan raja dunia,” ujar Infantino.
Pernyataan itu menjadi pengakuan penting dari orang nomor satu di FIFA. Ia menyampaikan bahwa otoritas sepak bola dunia tidak bisa memaksa sebuah negara memberi izin masuk kepada seseorang.
Di sisi lain, harga tiket Piala Dunia 2026 juga menjadi sorotan tajam. FIFA menetapkan harga tiket mulai dari 140 dolar Amerika Serikat, atau sekitar Rp2,5 juta. Harga kursi reguler untuk pertandingan final pada 19 Juli di New Jersey bahkan mencapai 8.680 dolar AS atau sekitar Rp155,8 juta. FIFA kemudian menaikkan harga tiket final menjadi 10.990 dolar AS atau sekitar Rp197,2 juta.
Lonjakan paling mencolok terjadi saat harga tiket final mencapai 32.970 dolar AS, atau sekitar Rp591,8 juta. Angka itu memicu kritik keras karena dianggap terlalu mahal bagi sebagian besar suporter. Setelah mendapat tekanan, FIFA menawarkan sejumlah kecil tiket seharga 60 dolar AS atau sekitar Rp1 juta kepada federasi nasional. Tiket itu disiapkan untuk suporter reguler masing-masing negara.
Infantino membela kebijakan harga tiket tersebut. Ia menyebut rata-rata harga tiket turnamen masih berada di bawah 500 dolar AS atau sekitar Rp8,9 juta.
“Jika kami melakukan sesuatu yang salah, semua orang di Amerika Utara juga melakukan sesuatu yang salah,” kata Infantino.
Ia membandingkan harga tiket Piala Dunia 2026 dengan ajang olahraga besar di Amerika Serikat saat memasuki fase play-off. Ia juga menyinggung lonjakan harga tiket NBA Finals antara New York Knicks dan San Antonio Spurs sebagai contoh. Meski begitu, klaim Infantino dinilai lebih sesuai untuk harga jual kembali, bukan harga resmi awal.
FIFA juga menghadapi perhatian dari jaksa agung di California, New Jersey, New York, dan Texas terkait masalah tiket tersebut. Infantino mengaku tidak khawatir dengan penyelidikan itu. Ia menegaskan bahwa FIFA sudah memeriksa seluruh proses penjualan tiket sebelum melepas jutaan tiket ke publik.
“Kami sangat tenang soal ini karena sebelum mulai menjual 6,5 juta atau 7 juta tiket, kami memeriksa semua yang kami lakukan bersama pengacara terbaik dan ahli terbaik,” kata Infantino. “Kami menyambut setiap penyelidikan,” ujarnya.
Infantino juga menilai bahwa pasar tiket sekunder berada di luar kendali FIFA. Menurutnya, lonjakan harga yang dilihat banyak penggemar untuk pertandingan Piala Dunia terjadi di area yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan organisasinya.
Polemik harga tiket dan kasus Omar Artan membuat tekanan terhadap FIFA semakin besar. Piala Dunia 2026 belum dimulai, tetapi Infantino sudah harus menjawab kritik dari banyak arah. Situasi ini menjadi ujian awal bagi FIFA sebagai penyelenggara turnamen sepak bola terbesar dunia. Dengan skala 48 negara dan 104 pertandingan, Piala Dunia 2026 langsung bergerak dalam atmosfer panas sebelum bola pertama bergulir.
Artikel Terkait
PSSI Ancam Larang Suporter Masuk Stadion Usai Beckham Putra Dihina Saat Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik
Meksiko vs Afrika Selatan Buka Piala Dunia 2026 di Azteca, Ulang Duel Pembuka 16 Tahun Lalu
Korea Selatan Vs Republik Ceko: Ancaman Bola Mati dan Cedera Warnai Laga Perdana Piala Dunia 2026
Portugal Kalahkan Nigeria 2-1, Penampilan Ronaldo Justru Tuai Kritik Tajam