Praktisi Intelijen: Teddy Indra Wijaya Disiapkan Mendampingi Gibran di Pilpres 2029

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Praktisi Intelijen: Teddy Indra Wijaya Disiapkan Mendampingi Gibran di Pilpres 2029

Jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029, peta politik nasional mulai menunjukkan arah baru. Praktisi intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra mengungkapkan bahwa sosok yang diproyeksikan mendampingi Gibran Rakabuming Raka bukanlah politikus senior seperti Sufmi Dasco Ahmad, melainkan Sekretaris Kabinet (Seskab) Letnan Kolonel (Letkol) Teddy Indra Wijaya.

Pernyataan itu disampaikan Radjasa dalam sebuah diskusi di kanal YouTube 245 TV, Sabtu (1/8/2026). Ia membeberkan analisisnya tentang persiapan kepemimpinan nasional yang tengah dirancang oleh Presiden Prabowo Subianto.

Sebelum membahas proyeksi ke depan, Radjasa mengulas kembali proses penetapan Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024. Menurutnya, Prabowo secara pribadi dan berulang kali meminta Gibran untuk menjadi pendampingnya. Klaim ini ia dasarkan pada informasi yang diterimanya dari Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.

“Jadi yang minta Gibran jadi wakil Prabowo, sampai lima kali loh itu pernyataan Dasco,” ujar Radjasa.

Fakta ini, lanjut Radjasa, mematahkan spekulasi yang berkembang di masyarakat mengenai siapa sosok di balik pencalonan Gibran. Ia menegaskan bahwa Prabowo-lah yang paling berkepentingan saat itu.

Skenario Pilpres 2029

Radjasa menilai Prabowo kini mulai menyiapkan figur untuk kontestasi lima tahun mendatang. Fokusnya bukan pada tokoh legislatif seperti Dasco, melainkan pada Teddy Indra Wijaya yang saat ini menjabat Seskab. Ia membaca adanya kalkulasi matang dari lingkaran Istana untuk menjadikan Teddy sebagai calon wakil presiden mendampingi Gibran.

“Nah, yang sekarang menjadi upaya Prabowo adalah bagaimana mengemas Teddy untuk mendampingi Gibran menjadi wapres,” ungkap Radjasa.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi pendelegasian kepemimpinan kepada generasi muda yang memiliki kapasitas dan rekam jejak pengabdian di lingkaran kepresidenan. Lebih jauh, Radjasa melihat skenario ini bukan sekadar manuver politik, melainkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas dan posisi strategis Prabowo setelah tidak lagi menjabat presiden.

“Dan ini juga menjadi backup-nya Prabowo juga nanti di kemudian hari,” imbuhnya.

Kehadiran figur pendamping yang loyal dianggap penting untuk menjaga ritme stabilitas politik nasional di masa transisi kepemimpinan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags