Suasana di Timur Tengah makin panas, dan dampaknya terasa sampai ke pasar energi global. Di tengah situasi genting ini, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengadakan rapat darurat virtual. Tak tanggung-tanggung, sekitar 40 negara diundang untuk membahas satu isu krusial: bagaimana caranya membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut Cooper, blokade yang dilakukan Iran di selat strategis itu sudah jadi pukulan telak bagi keamanan ekonomi dunia. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah akhir Februari lalu, selat itu ditutup. Akibatnya, pasokan minyak, gas alam cair, dan pupuk tersendat. Harga energi pun melonjak tajam, bikin semua negara kalang kabut.
“Ada kebutuhan mendesak untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran internasional,” tegas Cooper saat membuka rapat, Kamis lalu.
“Kita butuh tekad bersama untuk melihat Selat itu dibuka kembali,” tambahnya.
Nah, upaya kolektif itu mulai terlihat. Sebanyak 37 negara, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, hingga Jepang, sudah tandatangani pernyataan bersama. Mereka sepakat siap berkontribusi menjaga keamanan jalur pelayaran itu. Tapi, ceritanya belum komplet. Beberapa pemain kunci seperti Amerika Serikat, China, dan mayoritas negara Timur Tengah ternyata belum ikut mengangkat tangan.
Cooper sendiri tak ragu menuding Iran. Ia menyebut Teheran telah membajak jalur pelayaran internasional dan praktis menyandera perekonomian global. Forum ini, katanya, akan fokus memobilisasi tekanan baik diplomatik maupun ekonomi untuk memastikan Selat Hormuz bisa dibuka dengan aman dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
NTP Bangka Belitung Naik Tipis ke 154,86 di Maret 2026, Biaya Produksi Masih Tekan
Balita Tewas Diserang Monyet Peliharaan di Pamekasan
Ketua Komisi III Bantah Intervensi Kasus Videografer Amsal
Gunung Rinjani Resmi Dibuka, Kuota Jalur Utara Terpenuhi