Inggris Pimpin 37 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz, AS dan China Absen

- Kamis, 02 April 2026 | 23:35 WIB
Inggris Pimpin 37 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz, AS dan China Absen

Suasana di Timur Tengah makin panas, dan dampaknya terasa sampai ke pasar energi global. Di tengah situasi genting ini, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengadakan rapat darurat virtual. Tak tanggung-tanggung, sekitar 40 negara diundang untuk membahas satu isu krusial: bagaimana caranya membuka kembali Selat Hormuz.

Menurut Cooper, blokade yang dilakukan Iran di selat strategis itu sudah jadi pukulan telak bagi keamanan ekonomi dunia. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah akhir Februari lalu, selat itu ditutup. Akibatnya, pasokan minyak, gas alam cair, dan pupuk tersendat. Harga energi pun melonjak tajam, bikin semua negara kalang kabut.

“Ada kebutuhan mendesak untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran internasional,” tegas Cooper saat membuka rapat, Kamis lalu.

“Kita butuh tekad bersama untuk melihat Selat itu dibuka kembali,” tambahnya.

Nah, upaya kolektif itu mulai terlihat. Sebanyak 37 negara, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, hingga Jepang, sudah tandatangani pernyataan bersama. Mereka sepakat siap berkontribusi menjaga keamanan jalur pelayaran itu. Tapi, ceritanya belum komplet. Beberapa pemain kunci seperti Amerika Serikat, China, dan mayoritas negara Timur Tengah ternyata belum ikut mengangkat tangan.

Cooper sendiri tak ragu menuding Iran. Ia menyebut Teheran telah membajak jalur pelayaran internasional dan praktis menyandera perekonomian global. Forum ini, katanya, akan fokus memobilisasi tekanan baik diplomatik maupun ekonomi untuk memastikan Selat Hormuz bisa dibuka dengan aman dan berkelanjutan.

“Kita telah melihat Iran membajak jalur pelayaran internasional untuk menyandera ekonomi global,” ucap Cooper lagi, mempertegas sikapnya.

Di sisi lain, dari Paris datang suara yang agak berbeda. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis punya catatan penting: pengamanan Selat Hormuz baru mungkin dilakukan setelah fase intensif pemboman benar-benar berakhir. Ada prasyarat yang harus dipenuhi dulu.

Pernyataan itu sejalan dengan apa yang diungkapkan Presiden Emmanuel Macron. Saat berkunjung ke Korea Selatan, ia dengan tegas menyebut opsi operasi militer untuk membebaskan selat itu sebagai hal yang “tidak realistis”. Macron juga tak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang dinilainya plin-plan soal perang Iran dan NATO.

“Ada pihak yang menganjurkan pembebasan Selat Hormuz dengan paksa melalui operasi militer, posisi yang terkadang diungkapkan oleh Amerika Serikat,” kata Macron.

“Saya katakan terkadang karena hal itu bervariasi. Itu bukanlah pilihan yang pernah kami pilih dan kami menganggapnya tidak realistis,” tegasnya.

Jadi, meski keresahan sama, langkah yang diusung tampaknya belum sepenuhnya seiring. Tekanan diplomatik digenjot, tapi opsi militer dianggap bukan jalan keluar. Semuanya masih bergantung pada dinamika di lapangan dan kesepakatan yang sulit diraih.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar