Mualem Geram: Bupati Cengeng, Letakkan Jabatan!

- Jumat, 05 Desember 2025 | 12:15 WIB
Mualem Geram: Bupati Cengeng, Letakkan Jabatan!

JAKARTA - Teguran keras dilayangkan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Sasaran kritiknya adalah para bupati dan wali kota di wilayahnya yang dinilai menyerah begitu saja menghadapi bencana banjir bandang dan tanah longsor. Bagi Mualem, pemimpin daerah tak boleh bersikap cengeng. Mereka harus siap bekerja keras, maksimal, untuk rakyat yang sedang terluka.

Menurutnya, di tengah situasi sulit seperti ini, masyarakat butuh kehadiran dan aksi nyata. Bukan sekadar keluhan atau alasan.

“Jangan lari. Jangan ambil alasan tidak tahu. Kepala daerah harus memulai gerakan, memimpin masyarakat, bukan sebaliknya,” tegas Mualem dalam sebuah video yang beredar Jumat (5/12/2025).

Dia juga meminta seluruh jajaran, dari tingkat provinsi hingga gampong, untuk meningkatkan koordinasi. Respons harus cepat, tidak boleh lamban.

“Semua harus proaktif membantu masyarakat. Jangan ada yang cengeng,” kata Mualem lagi.

Gubernur ini mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah. Sebuah amanah yang menuntut keberanian mengambil keputusan tepat, terutama saat krisis melanda. Bahkan, dia tak sungkan menyarankan pejabat yang merasa tak sanggup untuk mundur saja.

“Saya harapkan kepada bupati/wali kota yang cengeng, letakkan jabatan. Ganti yang lain. Tidak ada salahnya,” ucapnya blak-blakan.

Dalam pernyataannya, Mualem tampak geram dengan sikap sebagian kepala daerah. Menurut pengamatannya, mereka terlalu mudah menyerah ketika dihadapkan pada situasi darurat yang menantang.

“Ini saja sudah melakukan diri, cengeng. Siapa suruh naik jadi pemimpin kalau sedikit persoalan sudah menyerah?,” sindirnya.

Bagi Mualem, banjir dan longsor yang melanda Aceh kali ini bukan bencana biasa. Skalanya begitu luas, hingga dia sampai mengibaratkannya sebagai “tsunami kedua” bagi Tanah Rencong. Situasi semacam ini, tegasnya, membutuhkan kepemimpinan lapangan yang kuat dan nyata. Bukan sekadar rapat koordinasi di balik meja yang nyaman.

Faktanya, kondisi di lapangan memang parah. Dari total 23 kabupaten/kota di Aceh, 18 di antaranya terdampak. Banyak wilayah terisolasi, sulit dijangkau. Membuka akses darat menjadi tugas paling mendesak saat ini agar bantuan logistik bisa menyusuri desa-desa yang terputus.

Memang, bantuan sudah mulai menjangkau kawasan yang sebelumnya terisolasi. Sebut saja Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, hingga Aceh Tamiang. Namun begitu, distribusi masih terkendala berat. Banyak ruas jalan rusak parah, dan di beberapa titik, satu-satunya harapan adalah jalur udara.

Pemerintah Aceh sendiri terus memantau perkembangan dan mengoordinasikan penanganan darurat lintas sektor. Prioritas utama kini adalah membuka akses secepat mungkin, mendistribusikan logistik, dan menangani para pengungsi dengan layak.

Di balik situasi yang penuh luka dan kehilangan ini, suara Mualem setidaknya menggambarkan sebuah harapan. Dia menegaskan Aceh tidak boleh berjuang sendirian. Semua pihak, terutama para pemimpin di daerah, harus benar-benar berdiri di garis depan. Memastikan setiap warga yang terdampak segera mendapat pertolongan yang mereka butuhkan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar