Laju kariernya di sepak bola benar-benar melesat. Riyani Saffana Suryani sendiri mungkin tak pernah membayangkannya. Bagaimana tidak? Dari awalnya sama sekali tak kenal olahraga ini, kini namanya sudah melanglang hingga ke turnamen bergengsi di Swedia. Semua berjalan begitu cepat.
Ceritanya berawal dari sebuah keputusan sederhana: ikut serta mewakili sekolahnya, SDN 129 Rancasari Margasari, di ajang MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bandung. Waktu itu, tahun 2024, itu adalah pengalaman pertamanya bermain sepak bola secara resmi. Riyanti begitu ia biasa disapa mengaku sebelumnya bahkan belum pernah sekalipun menyentuh bola dengan serius. Modal utamanya cuma satu: tekad.
Dan ternyata, keberaniannya itu langsung membuahkan hasil yang manis. Di gelaran MLSC Bandung 2024 itu, ia sukses menyabet gelar Best Player. Bukan main, untuk seorang debutan, ia mencetak 21 gol sepanjang turnamen. Angka yang cukup mencolok dan langsung menarik perhatian.
Menyadari bakat yang dimilikinya, Riyanti pun memutuskan untuk bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Goal Aksis di awal 2025. Keputusan itu ternyata tepat. Di sana, ia seperti menemukan rumah untuk mengasah kemampuannya.
Hasilnya pun tak butuh waktu lama untuk terlihat. Di MLSC Bandung Seri 1 2025/26, ia kembali dinobatkan sebagai Best Player untuk kategori U-12, dengan torehan 11 gol. Namun begitu, puncak prestasinya belum berhenti di sana.
Pada Juli 2025 lalu, Riyanti berhasil menembus seleksi ketat untuk membela Indonesia di Gothia Cup di Swedia. Ia terpilih dari ratusan peserta oleh Yopie Riwoe, eks asisten pelatih Timnas Wanita Indonesia. Sebuah mimpi yang jadi kenyataan.
“Pengalaman di sana senang banget,” kenang Riyanti saat ditemui di Lapangan Chandradimuka Pusdikif, Bandung, akhir Januari lalu. Suaranya masih terdengar bersemangat. “Awal-awal naik pesawat tuh senang, nggak expect aja gitu. Pas sampai Swedia, bener-bener nggak nyangka, kayak mimpi. Rasanya sudah sampai titik ini, mungkin ke depannya bisa lebih baik lagi.”
“Bisa cetak gol di sana bahagia banget,” sambungnya, matanya berbinar. “Bisa cetak salah satu gol dari Indonesia ke gawang Swedia, itu luar biasa.”
Lebih Dari Sekadar Turnamen
Di sisi lain, dampak dari perjalanannya di MilkLife Soccer Challenge ternyata lebih dari sekadar piala dan medali. Ernawati, ibu Riyanti, melihat perubahan signifikan pada putrinya. Karakter Riyanti, kata dia, jadi jauh lebih disiplin.
Pola hidupnya berubah total. Waktu istirahat, jam makan, hingga jadwal latihan, semuanya kini berjalan dengan teratur. “Iya sekarang disiplin,” ujar Ernawati. “Dari makanan, dari pola hidup sehari-hari aja, sekarang mah sudah tertata.”
Ada satu hal positif lain yang tak disangka oleh sang ibu. Rutinitas sepak bola membuat Riyanti lebih aktif bergerak dan perlahan mengurangi ketergantungan pada gawai. Sekarang, ada batasan waktu yang jelas untuk bermain ponsel, agar fokusnya tetap terbagi untuk sekolah dan latihan.
“Kalau main gim, alhamdulillah sekarang sudah jauh berkurang,” tandas Ernawati. “Bahkan hampir nggak ada lagi. Soalnya waktunya dipakai untuk hal lain. Fokusnya sekarang ya ke latihan dan prestasi. Main handphone dan gim kan bisa mengganggu konsentrasi. Jadi sekarang mah sudah dihapus semuanya, fokus ke main bola.”
Dari Bandung ke Swedia, perjalanan Riyanti memang luar biasa. Dan yang menarik, ini semua baru permulaan.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun