Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun

- Jumat, 01 Mei 2026 | 03:30 WIB
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun

IDXChannel Investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan, atau AI, yang selama ini jadi motor penggerak rekor bursa saham, ternyata punya masalah besar. Konflik di Timur Tengah jadi penghalang yang cukup serius. Bukan cuma soal perang, tapi juga dampaknya ke harga energi dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Melissa Otto, Kepala Riset di S&P Global Visible Alpha, yang ngomongin soal ini. Menurut dia, sebelum ketegangan dengan Iran memuncak, raksasa teknologi kayak Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Meta sudah siap-siap mengeluarkan dana segar sekitar USD635 miliar atau kalau dirupiahin, sekitar Rp10,8 triliun buat pusat data, chip, dan infrastruktur AI di tahun 2026. Angka ini naik drastis dari USD383 miliar (Rp6.511 triliun) di tahun sebelumnya. Bandingkan lagi dengan 2019 yang cuma USD80 miliar (Rp1.360 triliun).

Nah, sampai sekarang sih belum ada tanda-tanda mereka bakal mengerem belanja modal. Tapi, Otto bilang, harga minyak yang terus meroket bisa bikin perusahaan-perusahaan ini memutar otak. Revisi pengeluaran di kuartal pertama dan kedua mungkin terjadi. Dan kalau itu benar-benar terjadi?

"Itu bisa memicu koreksi yang sangat signifikan di semua pasar ekuitas," ujarnya tegas.

Dalam wawancara di Tokyo, Senin (30/3/2026), dia menambahkan, "Saya pikir jika angka belanja modal dikurangi, jika harga energi memang tidak tercermin dalam pendapatan, itu bisa menjadi katalis."

Sebelum konflik ini memanas, euforia AI sempat mendorong indeks saham global menembus rekor tertinggi di 2025. Tapi ya, momentum itu mulai luntur. Pelan-pelan, tapi pasti.

Di sisi lain, masalah energi memang jadi ganjalan yang nggak bisa dianggap sepele. Pusat data yang jadi tulang punggung AI itu butuh listrik gila-gilaan. Makanya, harga energi dan kapasitas infrastruktur jadi faktor krusial. Kalau harga listrik naik, otomatis biaya operasional ikut membengkak.

Pekan lalu, di konferensi energi CERAWeek di Houston, para eksekutif industri minyak sudah memperingatkan. Mereka bilang, risiko pasokan belum sepenuhnya tercermin di harga saat ini. Artinya, potensi kenaikan harga masih terbuka lebar. Dan dampaknya? Bisa meluas ke seluruh ekonomi global.

"Kita sedang menghadapi pertanyaan besar seputar pertumbuhan global. Karena jika harga energi melonjak 30 persen, itu akan merugikan konsumen, itu akan merugikan perusahaan,” kata Otto, menutup pernyataannya dengan nada prihatin.

Reporter: Nasywa Salsabila

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar