Rustini Muhaimin: Perempuan Garda Terdepan Ciptakan Generasi Unggul Lewat Literasi Keuangan, Gizi, dan Perlindungan Anak

- Kamis, 30 April 2026 | 01:30 WIB
Rustini Muhaimin: Perempuan Garda Terdepan Ciptakan Generasi Unggul Lewat Literasi Keuangan, Gizi, dan Perlindungan Anak

Jakarta, akhir April 2026. Suasana di ruang sosialisasi itu terasa hangat, tapi serius. Rustini Muhaimin, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, berdiri di depan podium. Ia bicara soal perempuan. Bukan sekadar peran, tapi soal bagaimana perempuan bisa jadi fondasi utama buat generasi unggul.

"Kalau kita ngomongin peran perempuan, saya selalu ingat Kartini," ujarnya.

Ia menyampaikan itu saat jadi keynote speaker di acara Sosialisasi Keuangan dan Makan Sehat yang digelar Perkumpulan Pergerakan Wanita Nasional (PERWANAS) di Jakarta, Rabu (29/4/2026). Menurut Rustini, Kartini di era sekarang bukan lagi sosok dalam buku sejarah. Kartini masa kini adalah para guru TK, kader posyandu, ibu-ibu yang setiap hari bergelut dengan keluarga dan masyarakat.

Di sisi lain, ia juga menyoroti sesuatu yang kadang luput dari perhatian: literasi keuangan sejak dini. Bukan hal rumit, katanya. Cukup dengan cara sederhana misalnya ngajarin anak bedain mana kebutuhan dan keinginan. Atau mulai mengenalkan celengan. Kecil-kecil, tapi efeknya jangka panjang.

“Guru TK dan kader itu bukan cuma ngajar. Mereka membentuk karakter. Mereka menentukan masa depan,” tegas Rustini.

Dari literasi keuangan, ia beralih ke soal pangan. Menurutnya, kesehatan anak itu tergantung dari apa yang mereka makan setiap hari. Jadi, jangan heran kalau ia mendorong penganekaragaman pangan. Makanan lokal, bukan yang instan-instansaja. “Anak sehat itu investasi. Dari tubuh yang kuat, lahir pikiran cerdas,” katanya.

Namun begitu, acara itu juga sempat diwarnai nada prihatin. Rustini menyinggung kasus kekerasan di sebuah daycare di Yogyakarta. Suaranya sedikit berat waktu bicara soal ini.

“Anak-anak itu amanah. Bukan tempat pelampiasan emosi,” ujarnya.

Ia menekankan komitmen zero tolerance terhadap kekerasan anak. Tidak ada alasan. Tidak ada ruang untuk itu. Para pendidik dan pengasuh, kata Rustini, harus punya empati. Sabar. Penuh kasih sayang. Lingkungan belajar harus aman dan nyaman. Itu harga mati.

Di penghujung sambutan, ia kembali mengajak para perempuan untuk berkontribusi nyata. Lewat kecerdasan finansial. Lewat kepedulian pada gizi keluarga. Lewat perlindungan anak. “Lewat tangan ibu-ibu sekalian, kita sedang menanam benih Indonesia Emas,” katanya.

Penutupnya sederhana, tapi mengena. Mulai dari hal kecil: kelola uang dengan bijak, sediakan makanan sehat, beri kasih sayang penuh pada anak. “Investasi terbaik bangsa ini bukan materi. Tapi manusia yang berkualitas,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar