Di Istana Negara yang terang benderang, Selasa malam lalu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan penting. Peringatan Nuzulul Quran, katanya, bukan sekadar seremoni belaka. Momentum ini harus jadi pengingat untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Quran dalam keseharian kita. Lebih dari sekadar dibaca atau direnungkan, ajarannya wajib diamalkan dalam kehidupan publik.
“Peringatan Nuzulul Qur'an yang diselenggarakan pada malam hari ini,” ujar Nazaruddin di hadapan para tamu, “merupakan bagian dari ikhtiar bersama. Ikhtiar untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan publik.”
“Sehingga ajaran-ajarannya tidak hanya dibaca dan dihayati, tetapi juga betul-betul diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya tegas.
Menurutnya, relevansi Al-Quran dengan kondisi bangsa ini sangat kuat. Kitab suci itu sarat dengan nilai-nilai fundamental. Keadilan, persaudaraan, tanggung jawab moral, hingga amanah untuk menjaga bumi. Semuanya ada di dalamnya.
“Al-Qur'an diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam,” jelasnya. “Membawa pesan-pesan kedamaian, persatuan, dan kemaslahatan bagi umat manusia.”
Di sisi lain, ia juga mengingatkan soal tradisi dakwah yang sudah mengakar. Para ulama, tuturnya, selalu mengajarkan agar ucapan dan dakwah menjadi penyejuk. Fungsinya memperkuat persaudaraan dan menumbuhkan persatuan, bukan malah menyulut api perpecahan.
Tak lupa, ia menyinggung soal peran umat untuk mendoakan pemimpinnya. Doa itu penting. Agar para pemimpin diberi kekuatan dan kebijaksanaan untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik.
“Demikian pula umat senantiasa diajarkan untuk senantiasa mendoakan para pemimpin,” ujar Nazaruddin. “Agar diberi kekuatan, kebijaksanaan, dan keteguhan di dalam memimpin bangsa menuju kebaikan bersama.”
Untuk menguatkan poinnya, Menag lalu mengutip perkataan ulama besar, Al-Fudhail bin 'Iyadh. Perkataan yang cukup menyentak.
“Ulama besar Al-Fudhail bin 'Iyadh pernah berkata, 'Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, maka niscaya aku akan memanjatkannya untuk pemimpin',” ujarnya membacakan kutipan.
Lalu apa alasannya?
“Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab, 'Jika doa itu aku tujukan untuk diriku sendiri, maka manfaatnya hanya kembali kepadaku. Akan tetapi, jika aku tujukan untuk pemimpin, maka kebaikan pemimpin akan membawa kebaikan bagi manusia dan negeri',” lanjutnya menerangkan.
Dengan semangat itulah, Nazaruddin berharap nilai-nilai Al-Quran tak pernah padam. Ia harus terus menjadi sumber inspirasi. Untuk merawat persatuan, mewujudkan kehidupan yang damai dan adil, serta membawa rahmat bagi semesta.
Acara malam itu sendiri dihadiri sekitar 278 orang. Tampak hadir jajaran kabinet, perwakilan ormas-ormas Islam, pejabat tinggi negara, hingga sejumlah anak yatim. Suasana khidmat terasa jelas, mengisi setiap sudut ruangan.
Artikel Terkait
Ketua Komisi B DPRD DKI Usul Tarif TransJakarta Naik Jadi Rp5.000
Pria Tak Dikenal Siram Cairan Merah ke Reza Pahlavi saat Acara di Berlin
Politik dan Agama Kembali Beririsan: Trump vs Paus di Tengah Konflik Iran
Polisi Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Dugaan Pelecehan Santri, Sahroni Minta Hukuman Berat