TNI Bantah Kabar Penggusuran SD di Ende untuk Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

- Selasa, 09 Juni 2026 | 14:55 WIB
TNI Bantah Kabar Penggusuran SD di Ende untuk Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI), Brigjen TNI Muhammad Nas, membantah keras kabar yang menyebutkan bahwa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, akan digusur untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan media di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (9/6/2026), sebagai respons atas viralnya informasi yang dinilai keliru di masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Muhammad Nas menegaskan bahwa proyek pembangunan koperasi sama sekali tidak berlokasi di atas lahan sekolah. Ia menjelaskan bahwa bangunan KDMP justru didirikan di area belakang sekolah. Permasalahan muncul karena akses jalan menuju lokasi pembangunan harus melewati halaman sekolah, sehingga memicu kesalahpahaman di kalangan warga.

“Ternyata rekan-rekan sekalian, bukan menggusur sekolah. Bukan ditaruh untuk menggantikan sekolah, bukan. Sekolah itu, ulangi, (KDMP) dibangun di belakang sekolah. Akses jalannya kurang sehingga melewati sekolah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan kronologi kejadian yang memicu kegaduhan. Saat alat berat tengah bermanuver, tiang penyangga di area sekolah terkena benturan. Tiang tersebut kemudian digeser sementara untuk kemudian diperbaiki kembali ke posisi semula. Insiden ini, menurutnya, diperparah oleh kejadian lain ketika alat berat secara tidak sengaja mengenai dahan pohon durian milik warga.

“Memang sebelumnya, kejadiannya, saat alat berat kena dahan pohon duren orang, katanya sebesar jempol kaki, ibu ini marah-marah, teriak-teriak. Nah, itu diklip, ibu itu marah-marah, ada alat berat di situ,” jelasnya.

Muhammad Nas menekankan bahwa penyebaran informasi yang tidak akurat atau misinformasi dapat menimbulkan dampak yang luas dan berbahaya. Ia mengingatkan bahwa tanpa verifikasi fakta yang mendalam, publik rentan terpengaruh oleh opini yang keliru, yang pada akhirnya berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Kerugiannya itu sangat besar, kenapa? Begitu masuk di platform media sosial seperti TikTok, Instagram, X, dan lain-lain, itu kan aksesnya sampai ke luar negeri. Bisa diakses ke mana-mana. Bahaya kalau kondisi ini dimanfaatkan oleh mereka, mereka lawan atau bahkan lawan kita,” ungkapnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar