Jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Singapura melonjak pada kuartal II 2026. Sebanyak 4.500 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang April hingga Juni, menjadikannya angka tertinggi sejak pandemi Covid-19 melanda.
Data Kementerian Ketenagakerjaan Singapura (MOM) menunjukkan PHK pada periode tersebut meningkat lebih dari 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka ini tercatat sebagai yang tertinggi sejak kuartal IV 2020, ketika 5.640 pekerja terdampak PHK.
“Lonjakan PHK terkonsentrasi di beberapa sektor yang berorientasi ke luar negeri, terutama didorong oleh restrukturisasi bisnis,” tulis MOM dalam keterangan resminya.
Meski demikian, pemerintah menilai pasar tenaga kerja Singapura secara keseluruhan masih cukup kuat. Jumlah lapangan kerja tetap bertambah sekitar 10.700 posisi pada kuartal II, sementara tingkat pengangguran bertahan di level 2 persen.
Optimisme dunia usaha pun mulai membaik. Proporsi perusahaan yang berencana merekrut pekerja dalam tiga bulan ke depan meningkat menjadi 43,9 persen pada Juni, naik dari 40,6 persen pada Mei.
Departemen Statistik Singapura mencatat, perusahaan di sektor jasa memperkirakan kondisi bisnis akan lebih baik pada paruh kedua 2026. Sementara itu, Badan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB) menyebut perusahaan di bidang precision engineering menjadi yang paling optimistis, didorong kuatnya investasi global di sektor kecerdasan buatan (AI).
Sebaliknya, perusahaan di sektor petrokimia dan minyak bumi justru memperkirakan kondisi bisnis akan lebih tertekan. Gangguan pasokan dari Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor yang membebani industri tersebut.
Dari sisi ekonomi makro, Singapura mencatat pertumbuhan 5,7 persen pada kuartal II 2026, lebih tinggi dari proyeksi pemerintah untuk tahun ini. Namun, ASEAN 3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperkirakan ekonomi Singapura hanya tumbuh 4,8 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada 2025.
Survei kelompok industri Singapura pada April lalu menunjukkan lebih dari separuh perusahaan khawatir terhadap kenaikan biaya tenaga kerja. Otoritas Moneter Singapura (MAS) juga sebelumnya mengingatkan bahwa permintaan tenaga kerja berpotensi melambat tahun ini seiring ketidakpastian ekonomi global.