Elektabilitas Dedi Mulyadi Kalahkan Prabowo, Spekulasi Politik Menguat

- Jumat, 31 Juli 2026 | 14:50 WIB
Elektabilitas Dedi Mulyadi Kalahkan Prabowo, Spekulasi Politik Menguat

Elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang tinggi dalam sejumlah survei nasional tidak hanya mengubah peta persaingan menuju pilpres, tetapi juga memunculkan spekulasi tentang langkah politiknya. Salah satu skenario yang mengemuka adalah kemungkinan Dedi menjadi lawan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Pengamat politik Tony Rosyid menilai berbagai rumor yang beredar patut dicermati setelah dua lembaga survei menempatkan Dedi di atas ketua umumnya dalam simulasi calon presiden.

"Pertanyaan di atas penting diajukan untuk membaca skenario apa yang sedang dimainkan dan ke mana arah serta targetnya. Pertanyaan ini merupakan upaya menelusuri strategi politik yang sedang digodok di panggung belakang," ujarnya.

Berdasarkan survei SMRC pada 5–19 Juli 2026, elektabilitas Dedi mencapai 35 persen, jauh di atas Prabowo yang hanya 14,5 persen. Sementara itu, Indikator Politik Indonesia pada 14–24 Juli 2026 mencatat elektabilitas Dedi sebesar 32,4 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 18,8 persen.

Tony menilai hasil survei tersebut memunculkan pertanyaan mengenai dinamika politik di balik layar, khususnya terkait Dedi. Ia mengatakan, berbagai spekulasi muncul karena Dedi merupakan kader Gerindra. Namun, belakangan beredar rumor bahwa hubungannya dengan sejumlah elite partai mulai goyah.

"Kedua survei menunjukkan bahwa elektabilitas dia berada di posisi teratas. Kinerja Dedi Mulyadi seorang diri? Atau ada tokoh besar yang sedang memainkannya? Rumornya Dedi Mulyadi mulai berseteru dengan elite di Gerindra," kata Tony.

Lebih jauh, Tony tidak menutup kemungkinan adanya perubahan arah politik dari Dedi. Ia menyinggung peluang Dedi kembali ke Partai Golkar. Apalagi, Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia dikenal sebagai salah satu tokoh yang dekat dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

"Jika info ini valid, tentu bukan sebuah kebetulan," ujarnya.

Meski demikian, Tony menegaskan bahwa seluruh kemungkinan tersebut masih sebatas pembacaan terhadap dinamika politik yang berkembang berdasarkan hasil survei dan rumor yang beredar. Ia juga mengingatkan bahwa hasil survei bukanlah kondisi yang bersifat permanen karena sangat mungkin berubah seiring perkembangan situasi politik dan kinerja para tokoh.

Namun, Tony menegaskan apabila tren elektabilitas terus bergerak ke arah yang sama, maka peta koalisi dan arah dukungan elite politik menjelang kontestasi nasional diperkirakan ikut mengalami perubahan yang signifikan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags