BMKG: El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, Operasi Modifikasi Cuaca Diperluas

- Jumat, 31 Juli 2026 | 08:50 WIB
BMKG: El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, Operasi Modifikasi Cuaca Diperluas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Nino diprediksi akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal I-2027, dengan puncak intensitas yang melebihi kategori kuat. Kondisi ini berpotensi memperparah kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia, terlebih dengan potensi aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pihaknya memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas. Langkah ini sekaligus menggalang respons cepat dan terintegrasi dari seluruh pihak untuk mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.

"BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia," kata Faisal dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM (11,8 persen) masih mengalami musim hujan, dan 113 ZOM (33,7 persen) berada di area tipe satu musim.

Puncak musim kemarau 2026 diproyeksikan terjadi pada Agustus, mencakup 48,84 persen wilayah, serta September dengan 25,41 persen wilayah daratan. Sejumlah wilayah bahkan mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang. HTH terpanjang tercatat 80 hari di PRH Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Sebanyak 437 ZOM (48,77 persen luas daratan) menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang, sementara curah hujan kategori tinggi baru diprediksi muncul secara bertahap pada Oktober–November 2026.

Ancaman Karhutla Meningkat

Ancaman kemarau kering ini berdampak langsung pada kecenderungan peningkatan titik panas (hotspot) di sejumlah area yang rentan karhutla. Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 5.019 titik panas yang mendominasi wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

BMKG mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan penuh menjelang puncak kemarau Agustus–September. Risiko karhutla diprediksi mencapai titik tertinggi di wilayah Sumatera dan Kalimantan, khususnya Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. Bahkan, BMKG terus memantau pergerakan partikulat asap karhutla yang saat ini telah terdeteksi di Kalimantan Barat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan hasil pemantauan pada akhir Juni mencatat indeks bulanan Nino 3.4 telah menembus angka 1,56. Angka tersebut mengindikasikan intensitas El Nino telah melampaui ambang batas kategori kuat (>1,5).

Selain itu, kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang saat ini masih berada di angka -0,387 menunjukkan peluang signifikan terhadap pemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode mendatang.

"Namun perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Nino bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Nino terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," ungkap Ardhasena.

Operasi Modifikasi Cuaca Digencarkan

Menjawab tantangan ancaman kekeringan dan karhutla, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan bahwa BMKG kini mengintensifkan penyemaian awan melalui OMC. Saat ini, OMC dioperasikan di Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan serta BNPB.

Untuk memperluas jangkauan mitigasi, BMKG juga menyiapkan Posko OMC Pekanbaru untuk menanggulangi karhutla di Riau serta Posko OMC Bandung untuk mengantisipasi kekeringan di Jawa Barat. Langkah strategis ini bertujuan memicu pembentukan hujan pada wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem.

"Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama. Kami menyelaraskan upaya ini melalui koordinasi erat bersama BNPB, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup," ujar Seto.

Secara konkret, BMKG telah menyelesaikan OMC di Aceh pada 20–26 Juli 2026 dan di Palembang pada 19–30 Juli 2026. Saat ini, operasi penyemaian awan masih terus berjalan di Palangkaraya sejak 27 Juli hingga 2 Agustus 2026, serta di Pekanbaru pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2026.

"Mengingat kebutuhan curah hujan yang semakin tinggi, BMKG bersama pemangku kepentingan merancang OMC dengan terus memanfaatkan keberadaan potensi awan agar menghasilkan hujan yang efektif mencegah karhutla hingga seluruh kebutuhan terpenuhi," terang Seto.

Sepanjang 2026, BMKG telah menggelar 17 kali OMC khusus mitigasi karhutla di berbagai wilayah rawan, meliputi Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan.

Di samping penanganan karhutla, BMKG juga merancang OMC untuk mengisi waduk dan danau sebagai langkah antisipasi terhadap dampak El Nino. BMKG mencatat telah sukses melangsungkan tiga kali operasi pengisian waduk di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah.

Ke depan, BMKG menjadwalkan kembali pelaksanaan OMC dengan menargetkan empat lokasi strategis, yakni Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, serta DAS Mamasa.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags