BI Perluas QRIS ke China, Transaksi Langsung Pakai Rupiah dan Yuan Tanpa Dolar

- Jumat, 01 Mei 2026 | 02:35 WIB
BI Perluas QRIS ke China, Transaksi Langsung Pakai Rupiah dan Yuan Tanpa Dolar

IDXChannel – Langkah Bank Indonesia (BI) memperluas konektivitas QRIS ke China mendapat sambutan hangat dari Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Menurut mereka, ini bukan sekadar soal teknis pembayaran.

Ketua Umum ASPI, Santoso Liem, bilang kolaborasi dua raksasa ekonomi digital di Asia ini bakal berdampak besar. Bukan cuma buat pariwisata, tapi juga memperkuat hubungan bisnis antarnegara. Menurutnya, integrasi ini strategis banget, apalagi melihat jumlah pengguna digital dan UMKM di kedua negara yang sangat besar. Di Indonesia sendiri, ekosistem QRIS sudah menjangkau sekitar 45 juta pelaku UMKM.

“Bagus sekali karena ini adalah salah satu kerja sama. Karena China adalah ekonomi yang cukup besar, terutama sebagai pemain digital di sana. Dan Indonesia juga adalah pemain digital yang unggul juga. Jadi ini adalah kesempatan kalau kolaborasi bisa terjadi,” ujar Santoso saat ditemui usai peluncuran di Gedung BI, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Nah, soal layanan QRIS lintas negara dengan China, saat ini baru mencakup kerja sama dengan UnionPay dan Alipay. Tapi, Santoso mengungkapkan, pihaknya sedang menjajaki kemungkinan untuk mengintegrasikan pemain besar lain. Misalnya, WeChat Pay dan Mobile Payment Companion (MPC).

Di sisi lain, meskipun Indonesia secara teknologi sudah siap, China ternyata masih dalam proses mengintegrasikan berbagai pemainnya ke dalam satu platform tunggal. Tujuannya jelas, biar bisa melayani transaksi internasional secara lebih mulus.

“Kalau WeChat-nya sedang dieksplor. Karena ini ada aspek teknologi yang harus diinterkoneksikan di antara mereka sendiri. Di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada masalah. Di mereka yang ada masalah karena baru dua kan (Alipay dan UnionPay). Mereka harus mengintegrasikan, mereka harus mengubah menjadi satu platform,” kata Santoso.

Satu poin krusial yang patut dicatat dalam kerja sama ini adalah implementasi Local Currency Transaction (LCT). Artinya, transaksi nggak perlu lagi dikonversi ke mata uang ketiga kayak dolar AS (USD). Langsung pakai nilai tukar rupiah (IDR) terhadap yuan (CNY). Santoso menegaskan, sistem ini sudah diatur melalui standar yang ditetapkan pemerintah kedua negara (Government-to-Government). Jadi, lebih aman dan efisien buat pengguna.

“Enggak perlu konversi (ke dolar). Jadi itu langsung otomatis antara dua G2G ini sudah menetapkan standarnya. Jadi sudah aman sekali. Jadi rupiah langsung diadu dengan yuan atau renminbi. Jadi ini yang membedakan,” ujar dia.

Berdasarkan pengalaman pribadinya saat mencoba sistem pembayaran di China, Santoso optimistis layanan ini bakal semakin matang. Katanya, dia sudah beberapa kali nyoba di sana dan nggak ada masalah. Cuma, memang belum menyebar luas. Ke depan, China diharapkan punya satu kode QR yang bisa melayani berbagai macam penyedia jasa pembayaran sekaligus mirip kayak standardisasi QRIS di Indonesia.

“Saya sebenarnya sudah pernah mencoba di sana beberapa kali enggak ada masalah. Cuma memang belum menyebar. Nanti ke depan bisnis pun akan dipererat dengan transaksi dua negara ini,” katanya.

(Dhera Arizona)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar