MAKASSAR Tekanan itu nyata. Tomas Trucha, sang pelatih PSM Makassar, mungkin sedang menghadapi momen paling pelik sepanjang kariernya di klub. Tanggung jawabnya kini terasa berat: harus meraih kemenangan atas Semen Padang di Stadion BJ Habibie, Senin malam nanti. Tapi, situasi timnya jauh dari kata siap.
PSM butuh tiga angka. Bukan cuma untuk sekadar menjaga posisi di papan klasemen, tapi lebih dari itu untuk memutus rantai buruk yang mengintai. Bayangkan, mereka terancam mengalami lima kekalahan beruntun. Ironisnya, misi sulit ini harus dijalani Trucha dengan skuad yang compang-camping.
Memang, bomber anyar Luka Cumic sudah bisa turun. Namun, kehadirannya belum cukup untuk menambal lubang besar di lini tengah. Dua pilar utama, Savio Roberto dan Gledson Paixao, masih diragukan tampil. Tanpa mereka, keseimbangan permainan PSM bisa-bisa ambruk. Fase transisi yang selama ini sudah rapuh, makin rentan.
Belum cukup sampai di situ. PSM kembali dihantam sanksi FIFA. Di saat mereka butuh amunisi tambahan, justru pintu transfer tertutup rapat. Lengkap sudah himpitan yang menimpa Trucha: tuntutan menang, pemain kunci cedera, plus tangan manajemen yang terikat regulasi.
Di sisi lain, lawan yang datang bukanlah Semen Padang yang biasa-biasa saja.
Kabau Sirah datang ke Makassar dengan mental bertarung. Mereka sedang berjudi besar demi bertahan hidup di BRI Super League. Terpuruk di dasar klasemen, tim asal Padang itu memilih jalur ekstrem: jor-joran di bursa transfer paruh musim.
Delapan pemain baru didatangkan, ditambah tiga promosi internal. Sebaliknya, sembilan pemain dilepas tanpa ampun. Ini bukan sekadar perombakan, melainkan sebuah operasi penyelamatan total.
Nama striker Argentina, Federico Anselmo, masuk radar sebagai solusi instan. Mereka juga agresif membajak pemain dari klub rival. Frets Butuan dan Abduh Lestaluhu dari Malut United dikabarkan sudah deal. Firza Andika, eks PSM, juga dibidik. Sementara Kasim Botan disebut telah sepakat bergabung dengan status bebas transfer.
Langkah-langkah drastis ini tak lepas dari tekanan internal. Andre Rosiade, penasihat tim, disebut turun tangan langsung setelah kekalahan dari Persis Solo. Bahkan, kabarnya ia menggunakan dana pribadi untuk memutus kontrak pemain yang dianggap gagal, termasuk striker asing Cornelius Stewart yang langsung hengkang ke Barito Putera.
Pesan dari Padang jelas dan keras: tidak ada lagi ruang untuk bermain setengah hati.
Kondisi ini mengubah laga di Gelora BJ Habibie menjadi ujian mental yang berat bagi PSM. Di atas kertas, Juku Eja unggul sebagai tuan rumah. Tapi secara psikologis, tekanan justru menggunung di kubu mereka.
Trucha tak cuma dituntut menang. Ia harus menang dengan sumber daya terbatas, di tengah krisis konsistensi, sambil menghadapi tim tamu yang bermain dengan mental "hidup-mati".
Dalam situasi seperti ini, satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Dan jika PSM kembali terpeleset, konsekuensinya akan lebih dalam dari sekadar angka di klasemen. Kepercayaan terhadap arah tim di bawah Tomas Trucha, perlahan-lahan, bisa ikut runtuh.
Artikel Terkait
Persib Bandung Balikkan Keadaan, Kalahkan Bhayangkara 4-2 dan Rebut Puncak Klasemen dari Borneo FC
Tim Uber Indonesia Kalahkan Denmark, Tantang Korea Selatan di Semifinal
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares