Perjalanan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, ke Aceh Tamiang Rabu malam itu bukanlah perjalanan biasa. Ia membawa bantuan, tapi yang lebih dulu menyambutnya adalah bau menyengat yang menggantung di udara gelap. Bau itu menusuk, mengganggu, dan sumbernya masih misterius apakah dari bangkai hewan, atau mungkin hal lain yang lebih mengerikan.
Mualem, begitu ia akrab disapa, tiba sekitar pukul 11 malam setelah menempuh jalur darat dari Lhokseumawe. Begitu masuk wilayah kabupaten yang dilanda banjir dan longsor itu, suasana berubah total. Gelap gulita menyelimuti karena listrik padam. Di bawah cahaya kendaraan, jalanan tampak seperti lapisan lumpur tebal, dengan beberapa mobil teronggok tak berdaya di pinggirnya. Pemandangan yang suram dan mencekam.
Kondisi semakin memilukan ketika rombongan sampai ke Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru. Kampung itu seperti habis dihajar amukan alam. Rumah-rumah warga rusak parah. Beberapa bahkan nyaris rata dengan tanah, hanya fondasi yang tersisa, berserakan bagai mainan yang dihancurkan.
Menyaksikan langsung kehancuran itu, Gubernur tak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Kita sedih dan pilu melihat kondisi ini. Kita harap rakyat Aceh tabah menghadapi cobaan banjir dan longsor,"
ungkap Mualem dalam keterangannya.
Di tengah kepiluan itu, ada bantuan yang dibawa sebagai bentuk solidaritas. Mualem menyerahkan 30 ton lebih sembako sumbangan warga Medan, Sumatera Utara. Isinya beragam, mulai dari air minum dan beras, hingga mi instan, biskuit, telur, serta obat-obatan. Bantuan seadanya itu diharapkan bisa sedikit meringankan beban warga yang kehilangan hampir segalanya.
Artikel Terkait
Kebijakan Visa AS Dinilai Hambat Antusiasme Suporter ke Piala Dunia 2026
Militer Israel Selidiki Tewasnya Bayi 7 Bulan Akibat Tembakan Pasukan di Tepi Barat
BWF Resmi Ubah Format Turnamen Super 1000, Durasi Diperpanjang hingga 11 Hari
Kejaksaan Agung Dinilai Berani Bongkar Korupsi di Badan Gizi Nasional, Beri Peringatan Keras ke Pengelola Program MBG