Respons Timur Tengah atas Langkah Diplomasi Prabowo
Inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk membuka kanal dialog antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran rupanya tak hanya jadi wacana. Dari sejumlah ibu kota negara di Timur Tengah, bahkan dari dunia Islam yang lebih luas, datang sambutan yang cukup hangat. Seperti ada angin segar di tengah ketegangan yang berkepanjangan.
Hal ini diungkapkan oleh Nusron Wahid, tokoh Nahdlatul Ulama yang juga menjabat sebagai Menteri ATR/BPN. Ia baru saja menghadiri buka puasa bersama Presiden dan sejumlah ulama di Istana, Kamis malam lalu.
“Prinsipnya Bapak Presiden menginginkan adanya pertemuan antara Amerika Serikat dengan Iran untuk membuka ruang dialog. Langkah-langkah yang diambil Pak Presiden mendapat dukungan dari beberapa negara Timur Tengah dan negara Islam lain, termasuk Pakistan dan UAE,” kata Nusron.
Menurutnya, dukungan itu nyata. Beberapa negara di kawasan itu melihat Indonesia punya peluang untuk jadi penengah sebagai mediator dalam perseteruan yang melibatkan Iran dan negara-negara Barat. Pakistan dan Uni Emirat Arab disebut-sebut termasuk yang merespons positif.
Ini bukan langkah kecil. Upaya ini jelas bagian dari strategi diplomasi Indonesia yang ingin lebih vokal di panggung internasional, khususnya untuk meredakan panasnya situasi di Timur Tengah. Nusron juga menyinggung soal peran Indonesia yang akan memimpin kelompok D-8.
“Intinya, Pak Presiden bersama tujuh pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok delapan itu menginginkan adanya perdamaian. Jangan sampai perang berlarut-larut, terutama di Iran maupun di kawasan Teluk,” ujarnya.
Selain lewat D-8, pemerintah juga memanfaatkan forum lain. Ada inisiatif Board of Peace (BoP) yang digaungkan. Nusron pun berharap masyarakat bisa mendukung langkah diplomasi ini sepenuhnya.
“Posisi Pak Presiden, bangsa Indonesia sudah menerima BoP ini sebagai sarana dan ikhtiar menuju perdamaian. Setidaknya ikhtiar ini dicoba terlebih dahulu. Jangan sampai usaha belum dilakukan, tetapi sudah diminta untuk keluar,” tegasnya.
Dalam pertemuan buka puasa tadi, para ulama dan tokoh masyarakat Islam dikabarkan sepakat untuk terus berkomunikasi dengan pemerintah. Mereka mendukung upaya menciptakan perdamaian di sana.
Di sisi lain, pemerintah tak tinggal diam melihat kemungkinan dampak global. Mereka mengantisipasi gangguan pada pasokan energi dan pangan jika konflik di kawasan Teluk ternyata meluas. Semua ini dilakukan sambil terus menjalankan diplomasi yang sudah dirintis.
Artikel Terkait
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil
Kuasa Hukum Ungkap Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Kini Merenggang
BNI Pastikan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Credit Union Aek Nabara pada 22 April 2026
Unhas Perkuat Pengawasan dengan Teknologi dan Aparat untuk UTBK 2026