Trump Klaim Iran Hanya Miliki 22 Persen Pasokan Rudal Usai Serangan AS-Israel

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:15 WIB
Trump Klaim Iran Hanya Miliki 22 Persen Pasokan Rudal Usai Serangan AS-Israel

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Iran telah kehilangan sebagian besar kapasitas produksi rudal dan drone setelah gelombang serangan gabungan AS dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut Teheran kini hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari total pasokan rudal yang tersisa. Klaim ini disampaikan di tengah ketegangan yang masih membara di kawasan Teluk, meskipun gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran telah diberlakukan sejak awal April lalu.

Dalam sepekan terakhir, Iran diketahui telah menembakkan puluhan rudal ke arah negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Tindakan ini terjadi di tengah situasi yang masih panas, meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang disepakati kedua belah pihak. Trump, dalam wawancara dengan NBC News yang dikutip oleh AFP dan Anadolu Agency pada Sabtu (6/6/2026), juga menegaskan bahwa sebagian besar pabrik drone Iran telah hancur akibat serangan tersebut.

“Sebagian besar pabrik drone telah dihancurkan, sebagian besar landasan peluncuran telah dihancurkan, dan sebagian besar area produksi rudal telah dihancurkan,” kata Trump dalam wawancara yang akan ditayangkan pada Minggu (7/6) waktu AS. Ia menambahkan, “Mereka masih memiliki kapasitas. Mereka memiliki sejumlah rudal, mereka memiliki sejumlah drone.”

Trump kemudian merinci perkiraan pasokan rudal Iran yang tersisa. “Saya akan mengatakan secara persentase, mungkin 21-22 persen dari rudal mereka. Itu banyak rudal, tetapi tidak seperti saat kita pertama kali menyerang,” ucapnya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang disampaikan Trump pada Mei lalu, di mana ia menyebut hanya 18 persen pasokan rudal Iran yang masih tersisa. Presiden AS itu kerap mengklaim telah menghancurkan sepenuhnya kemampuan perang Iran, meskipun pernyataan terbarunya menunjukkan masih ada sisa kapasitas yang dimiliki Teheran.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar