SulawesiPos.com – Klaim terbaru militer Israel soal serangan udaranya menimbulkan tanda tanya besar. IDF merilis rekaman yang mereka bilang berhasil menghancurkan sebuah helikopter Mi-17 milik Iran. Tujuannya, kata mereka, untuk melemahkan kemampuan udara Teheran di tengah konflik yang terus memanas.
Tapi, benarkah yang dihancurkan itu helikopter sungguhan? Banyak analis meragukannya. Salah satunya, Patricia Marins, seorang analis independen yang cukup dihormati di kalangannya.
Menurut pengamatannya, objek dalam video itu kemungkinan bukan helikopter. Ia menduga kuat itu cuma lukisan di aspal.
"Teknik seni darat semacam ini bisa membuat objek terlihat sangat realistis dari perspektif udara," ujar Marins.
Ia menjelaskan, lukisan anamorfik dua dimensi bisa dibuat sedemikian rupa sehingga dari ketinggian entah itu dilihat drone, satelit, atau pesawat mata-mata gambar datar itu tampak seperti benda tiga dimensi. Sangat meyakinkan.
Kalau benar dugaan Marins, maka ini adalah bagian dari taktik perang psikologis dan pengecohan yang cerdik. Iran diduga sengaja membuat target palsu untuk mengelabui pengintaian udara Israel. Tujuannya sederhana tapi efektif: mengalihkan serangan dari aset nyata dan membuat lawan buang-buang amunisi mahal untuk menghancurkan aspal yang dicat.
Sebenarnya, siasat seperti ini bukan barang baru. Dalam peperangan modern, penggunaan replika mulai dari tank, pesawat, sampai markas palsu sudah jadi hal biasa. Perang sekarang kan sangat bergantung pada mata-mata di angkasa dan drone. Makanya, menipu sensor musuh jadi strategi yang lumrah.
Di sisi lain, insiden ini terjadi dalam atmosfer ketegangan yang makin pekat antara Iran dan Israel. Serangan balasan, tembak-menembak rudal, dan operasi lintas wilayah sudah jadi menu harian. Tapi perang mereka tidak cuma di lapangan. Perang informasi dan gimik psikologis seperti ini juga jadi senjata andalan untuk membentuk narasi dan mengacaukan perhitungan lawan.
Jadi, di balik klaim kemenangan yang terdengar gemuruh, bisa jadi yang terjadi adalah permainan bayangan. Satu pihak mengklaim kehancuran, pihak lain mungkin cuma tersenyum melihat musuhnya tertipu oleh sebuah lukisan. Realitas di medan perang zaman sekarang memang seringkali tak sesederhana kelihatannya.
Artikel Terkait
Danau Matano, Danau Purba Terdalam di Asia Tenggara, Jadi Surga Tersembunyi di Luwu Timur
KTNA Dukung Swasembada Pangan, Siap Hadapi El Nino dengan Inovasi
Wali Kota Makassar Larang Pungutan Biaya Perpisahan Sekolah, Ancaman Sanksi untuk Kepsek
Geng Motor Bersenjata Samurai Teror Warung di Maros Dini Hari